TOBATNYA SEORANG PEMUDA
Oleh; Edi Miswar
Nun jauh di sebuah hutan, seorang pemuda terlunta-lunta, telah berbilang hari ia di sana. Tak ia haus dan lapar. Badannya telah payah ia gerakkan. Dari matanya bercucuranlah air mata jika ia terbayang peristiwa itu.
“Mengapa Teungku-Teungku itu tidak mau menolongku? Aku ingin bertobat. Menyesali semua kesalahan. Ataukah aku seorang manusia keji yang tidak layak diberi maaf?” ia maracau. Ia merasa badannya meriang.
Kini pandangnya meluruh ke lembah-lembah, ke sawah-sawah yang menghijau di bawah sana. Ia telah sampai di puncak Bukit Cut, bukit ini kata orang-orang kampung hanya didiami iblis-iblis yang diusir Nabi Sulaiman jaman kusam dahulu. Ia menggisar pandang, ia tahu di mana letak dayah-dayah itu.
***
“Ada apa, Teungku. Kenapa dengan, Teungku. Sepertinya Teungku kelihatan kurang sehat,” teungku-teungku muda yang menjaga pintu gerbang bertanya. Mereka curiga mata-mata pemerintah. Mereka menemukan mata kelereng pemuda itu berputar seakan-akan ia sedang dikejar sesuatu.
“Saya ingin menjumpai Teungku Chik di sini,” jawab pemuda itu.
“Ada perlu apakah menemui Teungku Chik kalau boleh kami tahu.”
Tentu saja ia tidak berniat mereka menanyakan itu. Ia tidak mungkin mengatakannya; hatta kata tobat. Mereka pasti akan menanyakan perihal itu.
“Saya tidak bisa memberitaukannya pada kalian. Saya hanya dapat mengatakannya pada Teungku Chik. Perkenankanlah saya menemuinya,” pinta pemuda yang sekarang makin membuat mereka curiga. Bahasanya halus, pikir mereka. Tentu ia seorang dari mereka, dari Kuta Dalam*. Seseorang yang diutus Nuruddin. Adakah di tempat ini bersembunyi orang-orang yang dikabarkan menyebut dirinya tuhan.
“Maaf, boleh kami tahu. Teungku dari mana.” Terdengar seorang yang lain bertanya. Wajahnya penuh rambut. Alis tebal. Dan bibir itu serupa benar dengan dua ekor ulat bulu yang ditempelkan di mulutnya.
Ia merasa gelisah. Namun, perlahan ia meredakannya. Ada nada menuduh yang kentara dalam pertanyaan itu.
“Saya dari Meureudu. Saya bukan dari Kuta Dalam*. Ijinkan saya berjumpa dengan Teungku Chik dayah ini.”
Tentu ia bermaksud sesungguhnya. Karena ia pun telah mengetahui warta pembunuhan pengikut Fansury. Tapi mereka menangkap sesuatu yang lebih dulu telah mereka sangka. Tidak salah lagi. Mata-mata kerajaan.
“Saya, maaf, Teungku-Teungku, saya bukan mata-mata. Saya mengerti Teungku-Teungku, memang sewajarnya Teungku-Teungku bersikap demikian.”
Setelah ia bercerita bahwa di Indrapuri Teungku-Teungku di sana menemukan penyusup-penyusup kerajaan. Baru mereka menyadari kalau tidak pada tempatnya ia dicurigai.
“Mereka penjahat-penjahat yang diangkat Raja Johor itu,” katanya mengakhiri ceritanya.
“O, Teungku dari Meureudu. Banyak yang dari Meureudu di sini. Teungku Mursalin, Teungku Zulfikar, Teungku Halimulia, Teungku Murdani, dan satu lagi siapa ya,” kata yang berwajah mirip kera tadi. Ia merasa bersalah atas nada pertanyaannya sebelumnya. Sekarang ia mencoba minta maaf melalui sikapnya. “O, Teungku Arif Zainal.”
“Ya, mereka memang sekampung dengan saya. Meunasah Jurong Teupin Pukat.”
Lalu mereka membawanya menghadap Teungku Chik.
Dari Teungku Mursalin ia tahu Teungku Chik ini sebaya dengan Teungku Ahmad Diwi yang dibunuh bala tentara kerajaan. Dari Teungku Chik ini pula ia mengerti mengapa Raja Johor ingin membasmi orang-orang seperti Teungku Ahmad Diwi. Teungku Ahmad seorang alim yang senang berkata jujur ketika berdakwah. Ia seorang Teungku yang tidak mau menerima kebaikan-kebaikan meuligoe* yang tentunya memiliki maksud-maksud tertentu dibaliknya.
Dari Teungku Mursalin ia tahu betul bahwa Teungku Chik juga orang yang senang berterus-terang.
Dalam jarak beberapa depa ia mulai memperhatikan raut wajah di depannya. Tidak ada kulit menghitam di dahinya. Dia mengenakan songkok hitam. Atasan lebar putih mirip yang digunakan pedagang-pedagang Gujarat yang pernah dilihatnya singgah di Meureudu. Dadanya bidang. Ketika menatapnya ia seperti melihat sungai dengan air yang mengalir jernih, di kiri-kanan sungai itu tumbuh pohon-pohon randu yang meninggalkan bayangnya di permukaan air.
Ia sedang memberikan beberapa tafsiran di balai-balai terbesar tempat itu. Ketika dia melihatnya naik, murid-murid pilihan mengambil perhatian sembari mengikuti arah dia menatap.
“Abon, Teungku ini ingin menemui Abon. Maaf, tapi Teungku ini mendesak dan tak mau menunggu setelah pengajian ini selesai.” Lapor Teungku yang tadi bertugas jaga gerbang.
“Saya minta maaf. Tapi saya…,” ia terdiam ketika Teungku-Teungku di balai-balai itu merapat padanya. Mereka merangsek. Ia terkepung dan ia merasa kulitnya terkelupas.
***
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi. Kemudian, shalawat dan salam pada junjungan alam. Ya, berkat beliaulah kita dapat hidup seperti sekarang ini, hidup dalam rahmatNya. Hanya rahmatNya barangkali.
Surat ini saya maksudkan untuk orang-orang yang tanpa sengaja telah saya sakiti. Orang-orang baik, orang-orang yang mencintai ilmu dan agama.
Wahai, telah lama saya dengar bahwa Tuhan itu maha pengampun. Tiada apapun yang tidak terampuni karena Allah swt Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Penyayang.
Bahkan pernah pula saya dengar sebuah cerita seorang sufi dari orangtua saya dahulu sekali. Ketika seorang manusia penyembah berhala. Namun, kemudian kepada Allah Yang Esa jualah ia bertobat. Saat umurnya telah renta. Malah saat malaikat bertanya kepada Rabbi mengapa manusia itu Tuhan kehendaki meninggal dalam kebaikan. Allah menjawab, “Lalu apa bedanya Tuhanmu ini dengan patung yang disembah manusia itu jika Tuhanmu ini tidak menerima tobatnya.”
Wahai yang membaca surat ini …
Saya laki-laki pendosa. Sayalah yang membongkar kubur seorang wanita, karena saya mencintainya dengan sangat. Tetapi alangkah laknatnya diri ini. Alangkah keji dan kejamnya. Entah apa yang merasuk ke tubuh dan pikiran saya. Saya telanjangi dia, kemudian saya perkosa dia.
Masya Allah… saya sungguh ketakutan. Saya sungguh takut ketika orang yang saya cintai tiba-tiba membuka mata. Berkata dengan ngeri dan histeris, “Kau…kau… tega mengotori tubuh saya. Apakah jawab saya kelak di Yaumil Masyar sekiranya Tuhan bertanya: mengapa saya menghadapnya dalam keadaan kotor, dalam keadaan junub?”
Sekarang, di tengah hutan ini, saya tuliskan apa yang mungkin membuat rasa takut saya mereda. Saya tahu mengapa Teungku-Teungku itu tidak mau menolong. Saya terlalu nista. Bahkan saya telah melakukan pelanggaran yang besar karena telah menginjakkan kaki di dayah-dayah mereka.
Lalu apa artinya ketika saya mengatakan hendak bertobat pada Teungku-Teungku chik, dan lidah mereka segera menimpali, “Allah maha pengampun, maha pengasih dan penyayang, maha apapun dosa akan dimaafkan asal jangan dosa menduakan tuhan, dosa syirik.”
Tetapi ketika saya katakan apa yang membuat saya ketakutan dan menderita. Mereka melempar saya ke luar gerbang masuk.
Ya, Allah ya Rabbi. Saya bertobat padaMu. PadaMu… bukan mereka. Mereka… Ampunilah… ampunilah semua dosa-dosa hambaMu ini.
***
Tuhan di arasyNya tersenyum menonton drama pemuda itu yang diusir Teungku-Teungku di televisi 2500 inchi bersama malaikat maut.
“Izrail,” Tuhan berfirman, “Sebelum kau mengambil nyawanya, sampaikan pesanKu bahwa Aku telah menerima tobatnya.”
“Hamba pergi sekarang Yang Maha Pengampun?”
“Tunggu kapan lagi. Sana pergi!” usir tuhan.
Izrail pergi terbang dengan cepat.
Hmm… macam mana Si Izrail itu. Masa pamer jago terbang di depanKu?!
Darussalam, 10 November 2007
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar