Surat Gila

Hai cantik, hari ini, tanggal 28 November 2007, aku melihatmu di kantin. Kau mengenakan baju coklat di antara teman-temanmu. Kau tahu, aku diam-diam mencuri pandang ke arahmu. Hm, ingin benar aku menulis tentangmu. Kau jadi seorang tokoh dalam cerpenku;

Ia tersenyum. Lagi-lagi tersenyum.

”Bang, ’napa senyam-senyum. Liat cewek itu, ya,” bisik Abeng. Sungguh, Iwan kecewa. Mau bagaimana lagi, tentu ia tak dapat mengelak.

”Nggak, mana ada. Cuman, ya, hm, orang tu kompak kali, ya?” ucapnya mencoba berbohong.

”Ye... bohong,” sorak mereka serentak. Abeng, Rajiv, Jojo, dan Fuad, itulah mereka. Mereka memanggilnya abang karena ia memang lebih tua.

Jojo gila lagi, ”Jangan ’ngimpi, Bang. Tuh cewek, bawak mobil baru mau.” Tawa mereka saling lomba sepertinya menyambut ucapan kawan yang senang mengenakan pakaian motif kotak-kotak.

Pada saat itu Akmal datang.

”Hoi, Bang. Jam berapa bangun tadi pagi?”

“Jam enam lewat,” jawab Iwan.

“Wah, subuh aku terbang bersama embun.” Lagi-lagi semua tertawa. Ia sedang melihatnya. Deg, mata itu begitu jernih. “Rokok ya, Bang,” Fuad mengambil rokok di depannya.

“Hm... ,” gumannya seraya mengangguk kecil

***

Waduh, gimana ya. Maaf, ya, cerita begini pasti jelek. Pake’ point of view orang pertama saja, ah.

***

Sebenarnya aku telah lama mengenalnya. Ketika itu angin entah apa warnanya, eh salah, angin berhembus tenang, senyaman berlindung di tempat Akang jualan di antara RKU III dan RKU IV. ..tulis apa lagi, ya. Macet lagi macet lagi. Pake’ style Seno Gumira Adjidarma aja, ah. Nggak! epigonisme, plagiat. Gaya Kahlil Gibran. Hm, ntar dikira sok romantis lagi. Oya, aku mesti cerita aja apa yang ingin aku ceritakan;

***

Suatu sore malaikat duduk di dekatnya. Malaikat itu ada dua. Satu kurus tinggi tapi berisi karena sepertinya sering olah raga, mirip Tora Sudiro. Satunya lagi kekar kayak Mike Tyson. Bukan, bukan, tapi, hm, mirip Tika Panggabean. Anak Project Pop.

”Ia memang nggak bisa menahan pandang. Catat! Itu dosa,” kata malaikat yang mirip Tora Sudiro.

”Tapi, ia nggak ngeres, bos,” tukas malaikat yang mirip Tika Panggabean. Tangan kanannya memegang bakso yang ia ambil dari pojok belakang kantin.

”Eh, makan apa, lu,” si tinggi berisi tapi ganteng kaget tampaknya, ”Kembalikan!”

”Tenang,” si tambun menyeringai setengah mengejek. ”Bakso itu telah kembali,” katanya menurunkan kembali sepotong tongkat ditangannya yang seketika kemudian menghilang.

”Gitu dong. Kita malaikat, mana mungkin buat dosa.”

”Nah, sekarang perhatikan gadis baju coklat itu.” kata malaikat yang mirip Tora Sudiro.

Gadis itu tersenyum dengan manis. Malaikat mencatat. ”Gadis itu tersenyum dengan manis. Senyumnya begitu gemulai. Kalau saja hidungnya agak bangir.

”Hei, ah, lu. Catatnya kok begini. Macam pengarang jaman Yunani Kuno. Kita sebagai malaikat harus kreatif catatnya.

  1. Hampir saja ia berdosa karena laki-laki itu memandang dengan nafsu. Tapi dosa itu dibatalkan.

  1. Dua orang laki-laki itu dosa karena mengatakan sesuatu yang jorok pada gadis yang sedang duduk dengan seorang laki-laki. Kata-kata itu adalah, ”Joe, Vina pacaran tuh. BH si Vina nampak kali, ya.” lalu yang seorang menambahi, ”Vina nggak cantek karena banyak lemak.”

”aduh, catatan-catatan model orde baru. Catatan militer tuh.”

”Daripada lu. Kayak catatan anak SD.”

”lu yang jelek.”

”Lu yang lebih jelek.”

”Dasar malaikat kampungan!”

”Lu yang kampungan, tahu!!”

Tiba-tiba terdengar suara pengumuman seperti suara pengumuman di mesjid. Dan segera saja keduanya gemetaran. Dalam hitungan detik sesosok putih telah berdiri di depan mereka. Rupanya, kepala malaikat bagian penerimaan malaikat baru ikut magang untuk jadi malaikat pencatat resmi di kedinasan wilayah Indonesia bagian barat.

”Kalian,” kata sosok putih itu seraya mengacungkan tangan ke atas, ”Pulang ke kampung masing-masing. Gara-gara kalian, andaikata seorang manusia masuk surga. Bisa jadi masuk neraka karena ketidak-konsistenan kalian dalam bekerja.”

Sontak kedua malaikat minta maaf dan segera menghilang.

Malaikat kepala perekrutan itu berdiri di tengah-tengah kantin FKIP Unsyiah. Matanya tak bisa lepas dari gadis berbaju coklat. Sebentar ia mengeluarkan laptop dari kantong Dora Emon-nya. Ukurannya sebesar Nokia 3660. Ia mnyentuh desktop dengan ujung kuku telunjuk. Program Mozilla Firefox. ”Lama konek-nya nih. Telepon aja, ah.” Kali ini ia menggunakan tangan kiri merogoh kantong Dora Emon-nya. Nampak ponselnya warna pink. Tangannya memencet tuts-tuts ponsel itu.

”Halo, Him,” sapanya, ”Ke mari, ke FKIP.”

“FKIP mana? FKIP San Francisco?!”

“Ngapain ke San Francisco. Bukan giliran saya kok. Itu giliran Harun. Saya sekarang di FKIP Unsyiah.”

”Mana tuh?”

”Aceh, tolol.”

”Lu tolol. Sorry, gue nggak bisa.”

Hubungan terputus, “Gue nggak bisa. Macam anak Jakarta aja.” batinnya kesal. Ponsel itu ia pencet kembali. Sebentar tersambung. Hm, ”Halo, Ampon. Mana digata?”

”Aku di Himalaya. Hi... hi... dingin betul di sini.”

“Bolos aja dari tugas Ampon. Aku di Aceh. Di sini banyak sekali orang berdosa. Asyik. Cepat naik pangkat nih. Aku kemarin kumpulin tugas aku ke Pak Ismail, aku langsung diacungi jempol sama dia. Good, good, good, and good, katanya. Laporan aku tentang BRR. Tahu tebalnya barapa? 2. 583.212 halaman. Belum lagi dosa-dosa di birokrasi Pemerintah Daerah Aceh. Pokoknya asyik deh.”

“maaf, Leman. Aku nggak bisa ke sana. Aku harus belajar disiplin di segala medan.”

Ya sudah. Hei, si gadis berbaju coklat benar-benar manis. Seperti Ratu Balqis, istri Nabi Sulaiman yang pernah ia lihat di laboratorium surga. Tapi, mengapa mereka memilih duduk di tengah kantin, ya. Tapi mungkin bukan dia yang memilih. Manusia kalau mencari tempat strategis seperti itu pasti agak-agak jumawa sifatnya, suka diperhatikan.

Sekonyong-konyong ia mengendus nafas iblis. Dan tahu-tahu si iblis memang di ujung sana, sedang mengawasinya. Dan tampak mengejek. ”Awas lu.” katanya lirih. Tangan terkepal mengacung.

”Kalian malaikat harus tahu, kami berhak menggoda manusia,” dalih iblis.

”Ya, ya, silakan calon neraka,” katanya sinis.

Si iblis menghampiri meja mahasiswa-mahasiwi yang duduk di bagian utara di kantin. Ia mendekat pada salah satu kuping mahasiswa. Malaikat tentunya mendengar dengan jelas. ”Lihatlah gadis itu. Betapa putih kulitnya. Bayangkan seandainya ia tanpa seutas benang pun menutupi tubuhnya. Atau ia sedang di kamar mandi. Sedang buang hajat. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Makanya kau harus onani. Onani itu penting. Karena apa, buatmu, menunggu nikah, wah, laaama banget. Lihatlah, betapa penuh daging pinggulnya. Mungkin sama dengan Inul Daratista. Dan, payudara itu, sama dan serupa benar yang ada di Baywatch, bukan?!”

Sementara itu di pojok sana seolah-olah malaikat sedang berzikir. ”Jangan percaya. Jangan percaya. Jangan percaya.” Entah bagaimana, setiap kali mahasiswa itu terbuai menikmati keindahan mahasiswi berpakaian coklat itu, di lain saat segera saja ia ingin membuang pandang.

”Iblis jelek. Dia lebih patuh sama aku daripada Anda.”

Iblis berubah menjadi muka cuka. Semasam tomat busuk. Tapi bukan iblis kalau ia patah semangat. ”Wahai, engkau laki-laki. Mencintai adalah fitrah manusia. Mencintai seperti bepergian ke negeri yang indah permai tetapi hanya lewat melintas saja kalau tidak mendapatkan cinta orang yang diinginkan. Cinta itu bagai laut. Begitu dalam. Begitu haus. Katakan padanya bahwa kau sangat mencintainya. Pergunakan langkah-langkah yang baik. Karena setiap wanita ingin melihat sikap yang dewasa dari seorang laki-laki. Pikatlah ia dengan kata-kata. Bacakan padanya seperti engkau sering membacakan puisi-puisimu di kos-kosanmu. Yang engkau karang semalam juga boleh, sangat bagus, ya sangat bagus.

Malaikat tenang mamandang si iblis. Menurutnya tidak ada kata-kata si iblis yang bisa membahayakan.

Saudari...aku ingin bercerita bahwa hatiku telah tertambat pada seseorang seperti burung madu yang terpikat pada sebuah kebun mawar. Saudari, aku perlu diingatkan. Andaikata parasnya membuat mataku tak dapat berpaling. Ingatkanlah itulah nantinya yang akan bersenyawa dengan debu. Andaikata rambutnya yang disinari bulan perak memikatku. Ingatkanlah itulah yang pertama sekali berguguran dari tubuhnya. Andaikata suaranya yang lebih merdu dari semilir angin menghanyutkanku. Ingatkanlah itulah nanti yang akan terbungkus tangisan ’pabila jiwanya kembali. Namun andaikata aku dapat menyelami jiwanya lalu dapat menghirup aroma jiwanya yang wangi, itulah kebahagiaan sejati. Sungguh beruntunglah mereka yang mencintai semata-mata karena hati yang seputih melati.”

”Masya Allah,” teriak malaikat. Mahasiswa yang digoda iblis mengambil rokoknya, menyulutnya dan kemudian menyisapnya dalam-dalam. Apa yang terbersit di kepalanya sangat benar. Tetapi, tiba-tiba ia mendengar bahwa ia tidak boleh mengganggu gadis itu jika ia tidak ingin menghendaki gadis itu menjadi pendamping hidupnya.

Malaikat tersenyum. Iblis nampak gemetar karena geram. ”Awas lu!” cing! Tempat iblis berdiri berasap.

”Pergi sana, ke Bali atau ke Jakarta. Tokyo juga boleh. Atau ke Moskow.” malaikat mengipasi gadis berbaju coklat. Semakin dekat ia menatapnya. Bukan Ratu Balqis memang, Ratu Balqis mirip dengan Syakira. Penyanyi Kolombia berayah Libanon. Mirip khadijah, istri Nabi Muhammad. Ia lupa-lupa ingat. Mungkin foto Siti Ainsyah di taman Salsabila.

Cing! Asap mengepul tiba-tiba di beberapa sudut. “Ha... ha... ha... mana malai- ikat yang mengalahkanmu muridku?” Di antara kepulan asap sebangun tubuh tinggi besar dan kelam menegak angkuh.

“Itu, yang berdiri di tengah-tengah itu, Bos,” kata si iblis yang kalah tadi.

“Hei, Mala. Gue udah jumpa lo di London. Gue janji sama lo, kita sodara sebenarnya. Hanya saja moyang gue ‘pala batu. Sampe’ kaum kami dikutuk gara-gara mister Adam si manusia pertama. Gue janji sama lo buat membagi manusia ini fifty-fifty, lima puluh-lima puluh, ikut kami dan ikut kalian yang sok-sok suci. Nah, sekarang di tempat ini begitu juga.”

“Ya, benar,” kata malaikat. Ia tidak ingin mengingkari janji. ”Tapi aku minta kompensasi. Yang baju coklat jangan digoda, setuju? Teman-temannya yang lain terserah. Kau bawa ke neraka jahannam kek, mau kau halau ke neraka-neraka lain, up to yau. Tapi yang baju coklat, hm, nehi.”

”Alah, sok India-Indian,” olok kedua iblis itu. Keduanya seakan ingin meruntuhkan tempat itu karena tawa mereka yang menggelegar. Malaikat aneh, cinta itu tidak ada sama malaikat, tahu!

”Terserah gue dong,” kata malaikat memasang muka tak berdosa.

Begitulah, malaikat mencatat dengan laptopnya. Kelakuan baik dari mahasiswa dan mahasiswi di kantin FKIP ia tandai dengan tanda ceklis. Sedangkan yang berkelakuan buruk ia buat tandai dengan goresan simpang.

”Gini kan enak,” canda iblis yang tadinya melarikan diri.

Malaikat jaga image, jaim. Terus mencatat. Cepat, karena ia mahir mengetik sepuluh jari. Sesekali matanya mengalun pada mata yang berbinar di tengah-tengah kantin. Di lain saat ia mencatat umpatan, ”Kopi di kantin FKIP paling mahal se-Unsyiah.” palang merah pada mahasiswa yang mengucapkan itu. Menjelek-jelekkan usaha orang lain. Kalau mahal jangan minum, gitu aja kok repot, batinnya.

Cantik... aku bingung sebenarnya harus menulis apa. Aku hanya ingin kamu membacanya. Maaf, kalau aku tidak menaruh nama. Aku tidak ingin mengenal dan dikenal. Hal yang paling wajar hubungan antara seseorang dengan seseorang yang lain ialah karena kerahasiaan. Ia akan memusat menjadi segala aktivitas yang padat. Kedalaman berpikir bahwa hidup anugerah. Waktu merupakan musuh yang mau tidak mau mesti dijadikan teman.

Aku ingin seperti waktu. Tapi bukan musuh, hanya teman. Tapi bukan teman selayaknya yang kau pahami. Terus-terang aku senang melihatmu. Itu saja. Di sini aku ingin jadi malaikat yang tidak berpikir yang tidak menyedihkan karena tindakan yang tidak senonoh karena parasmu, adikku. Di sisi lain, aku jugalah yang menjadi iblis karena manusia mempunyai kedua-duanya.

Seandainya kau tersinggung. Mungkin kelak aku akan minta maaf. Mungkin di jalan Pocut Baren. Mungkin juga di RKU IV, atau di ruang Walubi. Yang pasti, menulis ini seharian, dan mengetik semalaman membuatku sangat bahagia.

Salam,

Wan_meurah@yahoo.co.id.