Sesal
Oleh: Edi Miswar Mustafa
Aku mati. Pasti. Karena mereka telah mengguguk. Istriku mendekapku dengan eratnya. Anehnya, bau wangi tubuhnya yang selalu wangi itu tak tercium lagi. Ah, sesalnya aku. Benarkah aku sudah mati.
Kulihat bibir merah istriku. Sesalnya aku telah mengotori bibirku ini dengan bibir itu. Air liur yang tumpah ke mukaku. Ah, sepertinya ia bukan menangis. Tetapi membanjiri wajahku dengan air liurnya serupa air bah yang menggenangi Jakarta setiap tahunnya.
Hei … sudahlah. Kau akan merasakan sebagaimana aku merasakannya hari ini. Berpura-puralah kau menangis. Sebentar lagi malaikat akan sampai. Apakah kau kira tangis seperti tangismu akan memberatkan siksaanku di alam lain ini. Kau pun akan menyesali ini seperti sesalku hari ini. Tuhan akan melaknatmu seperti tuhan melaknatku hari ini. Tunggulah.
Kemudian seseorang berkata padanya. Kudengar suara itu dan aku tahu bahwa itulah suara adik sepupunya. “Sudahlah, Kak Halimah. Semua yang bernyawa pasti mengalami hal serupa ini. Ditinggalkan oleh ruh. Janganlah lagi kakak menangis. Tidak baik bagi keadaan Abang.”
Nama perempuan itu Maryam. Adik sepupu istriku. Dulu, ketika dia pertama kali menjejak Jakarta, itulah awal mula kami melakukan hubungan badan. Beberapa kali malam pertama itu. Sialan. Aku selalu kalah. Dia benar-benar luar biasa.
Lalu Martono, temanku – bisa dibilang bawahanku – melamarnya. Martono di awal-awal perkawinannya sempat kulihat berwajah murung. Karena kami biasa terbuka maka dia bicara kepadaku tentang permasalahan yang tengah dihadapinya; rupanya benar seperti dugaanku. Kemurungannya karena Maryam tidak lagi punya kesucian. Tanyaku waktu itu, mengapa sampai demikian. Martono mengungkapkan cerita si Maryam kepadaku. Begini ceritanya.
Di Aceh dia sempat pacaran. Lama. Hubungan mereka dari pertama masuk kuliah sampai selesai kuliah. Kemudian kedua orang tua mereka menyetujui adanya pertunangan. Semenjak pertunangan itulah, suatu hari kecelakaan itu terjadi. Mula-mula Maryam bersikukuh untuk tetap setia pada kesuciannya. Tapi tunangannya itu marah-marah saja semenjak keputusan itu diungkapkan Maryam. Dari hari ke hari perubahan pada laki-laki itu tampak olehnya. Pertemuan-pertemuan mereka menjadi tidak menyenangkan. Sampai-sampai Maryam kuatir dibuatnya. Dan, ketika suatu malam laki-laki itu meminta, Maryam tidak lagi menolaknya.
Mendengar itu dari Martono, hampir saja aku terjengkang tertawa (Maryam pernah mengutarakan versi bohong ini padaku sebelum akhirnya ia mengungkapkan cerita yang sebenarnya). Namun biarpun Margono itu lugu, aku suka padanya. Hampir tidak ada tugas yang kutugaskan padanya tidak berhasil dia kerjakan. Dia adalah andalanku. Oleh karenanya, sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak tertawa.
Kuajak dia keluar, ke rumah makan tidak biasanya baginya. Kepada sekretarisku kukatakan kalau kami tidak kembali lagi ke kantor hari ini. Hubungi saja aku melalui telpon. Itu pun kutambahkan; apabila perihal itu benar-benar penting. Jika tidak terlalu penting, katakan saja akan kita bereskan besok.
Sekretarisku yang tinggi, bahenol, putih, berambut lurus, berbibir seksi, dan bermata aduhai itu mengangguk. Tidak ada sama sekali padanya kesan kalau aku pernah beberapa kali menikmati tubuhnya di ruanganku – belakangan Margono tahu affair aku dan Wilhemina, si peranakan Jerman dan Manado ini. Tetapi Margono yang berdarah ninggrat Yogya itu sungguh-sungguh membuatku terharu karena sikap tutup mulutnya yang sepantasnya. Seolah-olah tak bedanya di matanya antara aku yang bejat dan aku di depan istriku; seorang laki-laki yang setia, jujur, bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang kepada anak-anakku.
Margono, kataku di rumah makan internasional Perancis itu, kalau aku jadi kau, aku tak akan bermurung diri. Mengapa, karena dua pertimbangan. Apalagi tunangan Maryam telah meninggal.
Aku ingat pada rokok 555-ku mengepul ceria waktu itu. Dari lantai 24 aku melihat mahasiswa-mahasiswa Islam di depan kedutaan besar Amerika Serikat. Lautan massa berwarna hijau di bawah sana sedang berdemonstrasi atas sikap diam negara adi kuasa itu kepada Israel yang menghancur-leburkan Jalur Gaza dalam dua mingguan itu. Kemudian aku menoleh ke kanan, melihat betapa mulusnya paha seorang gadis yang mengenakan celana pendek nyaris ke pangkal paha bersama teman laki-lakinya. Saat itu, aku yakin benar bahwa si gondrong itu kekasihnya. Lalu sekejap mataku kelayapan ke tonjolan di dadanya. Lalu aku melihat lagi wajah Margono yang berhitung pesek dan berdahi lebar itu.
Dua pertimbangan Gono, kataku. Maryam memberikan itu bukan karena kepentingan pribadi, maksudku, bersenang-senang. Ketika itu dia tentu tertekan, bukan. Kulihat Margono mengangguk-ngangguk. Matanya yang macam orang mengantuk itu menatapku lekat. Ketersimaan inilah ciri yang biasa kutandai apakah pesan yang aku sampai melalui alat wicara sudah dapat diterima atau belum sama sekali. Dia ingin tetap suci, tambahku, tetapi tunangannya, pusat segala harapan masa yang akan datang itu menginginkan bentengnya yang terakhir. Dan benteng yang terakhir itu telah dia pertahankan sekuat tenaga. Gono, sekuat tenaga. Seandainya kau jadi dia, apakah kau juga tidak bersikap demikian. Aku pikir siapa pun akan berada pada pendirian yang sama seperti dia.
Kulihat 555-ku terlantar di tanganku. Batang yang ketiga itu telah setengah menjadi abu. Segera kujentikkan ke asbak dan kemudian aku menyisapnya lagi dalam-dalam. Pandangku menebar. Pada asap pabrik yang membubung di jauhan, paha, tonjolan dada yang tadi, dan kembali ke kehijauan massa di bawah sana.
Akhirnya kami pulang. Wajah Margono tidak lagi murung untuk selanjutnya. Kalau pun dia bicara mengenai istrinya pastilah mengenai sesuatu hal yang menjadikannya sangat beruntung beristrikan Maryam. Tetapi sebagaimana umumnya perempuan, Maryam juga memiliki kelemahan yang umum itu. Dia perempuan yang mencintai harta. Dan bagiku itu sangat gampang. Segampang metabolisme di toilet hotel bintang lima. Keluargaku berlibur ke Milan, Margono beserta istri ikut. Ke Los Angeles nonton konser band favoritku semasa SMA. Hawai, ke pantai Waikiki. Mandi dengan bule-bule di sana (tentulah istriku dan Maryam juga pakai bikini). Ketika berlibur itulah tercipta banyak celah untukku bersama Maryam. Misalnya, aku instruksikan Margono ikut seminar yang kebanyakannya memang tidak perlu. Mewakiliku bertemu kolega di sebuah restaurant di salah satu sudut kota.
Sementara aku, aku pamit pada istriku. Satu alasan sudah cukup; urusan bisnis. Lalu kujemput Maryam di dekat apartemennya. Kami menyewa sebuah kamar hotel kecil yang jauh dari apartemen sewaanku dan apartemen Margono.
Maryam, kuda betinaku. Begitu biasanya dia kusapa saat-saat kemesraan itu. Bersamanya aku teringat kuda-kuda liar mongol yang melintasi gurun gobi. Rambutnya yang lebat seperti surai kuda. Kami serupa pengelana mengolia atau pun tentara Jengis Khan yang menyerbu Bahgdad pada abad pertengahan. Begitu tangkas dan ganas. Aku tak pernah membayangkannya cuma seorang anak desa. Sama sekali aku terlupa oleh kenyataan Maryam yang sesungguhnya.
Kau kuda betinaku, bisikku pada libur bareng pertama ke Kuta, Bali. Aku terkapar. Benar-benar lelah. Wajahnya di dadaku saat aku menggeraikan rambutnya yang basah oleh keringat.
Aku tidak mencintai kakakmu. Aku mencintai kau, Maryam. Kata-kataku itu mengagetkannya. Dia kelihatan senang. Tetapi sesaat kemudian dia seakan-akan ditimpa oleh suatu perasaan bersalah. Kepalanya menunduk. Merunduk. Kepala itu kemudian perlahan tergerak-gerak. Mengeleng. Aku mengangkat mukanya dan kulihat air mata itu bercucuran.
Maryam, maafkan aku. Apakah aku salah, sergahku panik. Dia bilang, aku tidak salah. Dialah yang salah. Lantas berceritalah ia akan jasa-jasa istriku yang membiayainya sekolah sampai ke perguruan tinggi di Banda Aceh. Bisa melihat Jakarta. Padahal, siapalah aku, ungkapnya.
Dia hanya anak desa. Mengerjakan sawah bersama neneknya. Mencuci pakaian-pakaian tetangga yang meminta tenaganya. Menunggui durian jatuh bila musim berbuah. Memetik melinjo yang merah dan kuning lalu kulitnya dibuang kemudian melinjo itu dijual pada tengkulak-tengkulak yang datang dari arah barat kota kecilnya setiap pagi.
Kehidupannya membuat dadaku mendidih. Sungguh, orang tak akan tahu siapa dia di balik tubuh ramping, mulus, dan senyum penuh seri itu. Aku mengerti perasaannya. Istriku adalah penolongnya. Dia tidak akan sudi jika aku meninggalkan ikatan perkawinanku. Dia hanya ingin jadi kuda betinaku.
Pikiranku kerap melayang padanya. Aku sama sekali buta bagaimana kehidupan ini sebenarnya. Yang terlintas di kepalaku hanya uang dan uang serta pantat perempuan. Wilhemina kemudian kujauhi. Simpananku di Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar kuputuskan dengan cara-cara yang tidak akan membahayakanku untuk selanjutnya.
Perasaan Margono kujaga sangat. Margono harus menyayanginya seperti aku menyayanginya. Cerita-cerita Margono tentangya sama persis seperti pernah kudengar sendiri dari mulutnya. Bagaimana perang telah menghancurkan banyak keluarga di kampung-kampung. Maryam hanya ingat ketika kedua orang tuanya menitipkannya pada sang nenek. Wajah sang ibu. Wajah yang terisak-isak. Tangan sang ayah yang memegang kedua pundaknya, kemudian kepalanya. Lalu berkata kepadanya, kau tinggallah bersama nenek. Kau jangan nakal. Kau harus pandai. Kau, Maryam, harus mengaji. Bacalah surat yasin pada tiap malam Jum’at. Dan, satu lagi, patuh pada nenekmu.
Aku kerap susah tidur memikirkannya. Bahkan setelah berlayar malam bersama istriku. Kuambil rokokku. Menyulutnya. Rasa simpatiku yang dalam memintaku untuk terus bertanya; mengapa negeri tolol ini senantiasa penuh konflik.
Kepada para jenderal yang dekat denganku mulai kucari pangkal sebab itu. Para pensiunan militer. Hanya itu, kataku setengah kaget kepada mereka. Kegagalan dua presiden yang lama berkuasa bagi rakyatnya adalah mampu dikangkangi alat negaranya. Militer ibarat anak kesayangan dalam sebuah keluarga. Dia dimanjakan karena padanya terdapat potensi-potensi yang tangguh yang dapat menolong orang tuanya. Sementara anak-anaknya yang lain dibiarkan centang-perenang. Dan si orang tua keluarga besar itu bermasa bodoh dengan hal itu. Dia orang tua dan orang tua harus mempunyai kekuasaan penuh.
Orang tua. Aku juga orang tua. Kelakuanku sama buruknya dengan kelakuan pemimpin bangsa ini. Istri orang, istriku. Anak orang yang mengais mimpi demi sejarah hidupnya, kuberi dia kemewahan, kesenangan, dan aku menghancurkan tunas-tunas penuh keceriaan menatap matahari pagi itu di bawah perutku.
Dan anak-anakku. Istriku. Seperti militer di negara ini. Mereka sampah yang selalu terhias komplit karena uangku.
Anak-anaku, banyak artis-artis di negeri ini yang bercerai dengan pasangan mereka karena anakku. Anakku mampu menimbun mereka dengan kemegahan dunia yang busuk ini.
Istriku. Aku sedih sekali. Saat aku di ruang darurat ini, menjadi mayat hidup selama seminggu lebih ini, baru kusadari siapa dia. Perempuan jahannam itu. Aku cuma bisa melihatnya berciuman dengan Margono. Dan, aku, si raja real estate, si raja media, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Tapi, Halimah. Bagaimana kalau Mas Mahmud sadar,” kata Margono kuatir di ruang inap rumah sakit ini.
“Alah, kau ini. Aku sedang bergairah, kau padamkan gairahku. Kita main dimukanya pun, dia cuma bisa nonton,” kata istriku yang mantan dokter itu dengan nada tinggi. Keduanya kulihat keluar.
Seminggu di rumah sakit itu, Maryam dan Margono sering melayat. Ketika Maryam meninggalkan Margono hari ini bersamaku, Margono menutup saluran oksigen ke pernafasanku. Dan aku hanya bisa melihatnya. Melihat Margono tersenyum bahagia.
“Maryam dimakan tunangannya. Kau pikir aku tidak tahu. Kau ajak kami berlibur. Kau pikir aku tidak tahu apa-apa hah. Aku dan istrimu pura-pura tidak tahu, kau tahu. Hanya pura-pura tidak tahu. Istrimu itu kambing betinaku.” Margono diam. Tiba-tiba dia bicara lagi. “Istrimu itu adalah kambing betinaku.”
Beberapa saat kemudian datang Maryam. Istriku. Anak-anakku. Dan istriku menangis histeris. Anak-anaknya, buah cinta kami, ya, mereka juga menangis.
Aku telah mati. Hidup ini benar-benar singkat. Melihat mereka, sesalku menjadi-jadi.
Aku tidak pernah berbuat baik. Aku menyesali hidupku. Sesal. Dan, sesal ini, ya, begitu miripnya dengan rasa sesalku ketika kusakiti hati seorang gadis semasa kuliahku dulu.
Sabtu, 24 Januari 2009