Minggu, 18 November 2012

Hidup Pokoroh


 

 
 

Hidup Pokoroh

Karya Edi Miswar

Ingin benar ia ceritakan padamu, kawan
Di pojok itu di bawah randu muda
Minke yang mencintai Annelies Mellema
dari kisah ‘Bumi Manusia’ Pramoedya

Ingin benar ia ceritakan padamu, kawan
Mengenai manusia-manusia di sana
Persahabatan, persaingan, konflik
dan khianat kenalan lama

Dia tahu kau sedang gelisah
Di antara gemuruh kemenangan
Tempik-sorak noni-noni Belanda
Para penjudi dari negeri caci
dan pengikut setia Nabi Luth
yang telah menunggu datangnya hari
Demi mandat kekuasaan atas negeri
Mereka pun teriak, “Hidup Pokoroh!!!”

Di pojok itu di bawah randu muda
Ingin benar ia kabarkan
Seorang perempuan yang ditikam Marsose
Marais muda yang kemudian mencintai musuhnya

Kekalahan pun lantas jadi diam selamanya
“Kita telah melawan, Nduk,” bisik Nyai Ontosoroh
Minke menunduk lesu
Persis kau saat di bawah randu muda
Di pojok di antara noni-noni Belanda

Meureudu, 31 Agustus 2012

* Edi Miswar, S.Pd.: Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Unggul, Pidie Jaya, staf pengajar Unigha Sigli, dan Wakil Humas Aliansi Guru Penulis Nasional  Cabang Aceh.

Sumber: Serambi Indonesia
Minggu, 2 September 2012

Sabtu, 08 September 2012

Dan Perang pun Kembali Berkecamuk



Oleh Edi Miswar Mustafa

Di masa itu, kata orang tua itu padaku, golongan pergerakan yang dulunya mengatasnamakan rakyat melawan serdadu-serdadu bayaran neoliberalisme dan kemudian menang dari kaum bayaran itu, tapi kemudian, tak berapa lama setelah menjadi golongan berkuasa di tanah ini, maka segeralah kelakuan-kelakuan takabur dan riya menampak dan golongan pejuang itu pun terpecah-pecah.

Mengapa, Kek, hal tersebut dapat terjadi, tanyaku. Karena perut, jawabnya singkat. Pandangannya kembali menjejak arah utara di mana persawahan berundak-berundak seperti tangga-tangga yang sengaja dibuat tangan-tangan berbakat seni dengan indah sekali.

Tapi, di masa itu, kami mengistilahkannya dengan nama materialisma. Memang, tambah orang tua itu lagi seraya menyulut rokok kreteknya untuk yang ketiga, musuh kita, manusia yang seharusnya hanya menginginkan hidup damai sesama manusia adalah takut mati dan terlalu cinta pada dunia. Nabi Muhammad pernah mengatakannya ketika beliau masih hidup.

Dan, ketakutan akan kejatuhan martabat di mata sanak-keluarga, handai-tolannya, dan istri mereka yang cantik-cantik. Maka terjadilah pengebirian yang merajalela di mana-mana.

Kakek, aku tak mengerti maksudmu kali ini, tanyaku. Aku hampir benar-benar terpesona padanya. Tak kusangka, di tempat sunyi celaka ini, ternyata aku masih dapat bertemu dengan orang-orang macam ini, mantan kaum kiri yang kini kembali melarikan diri ke gunung-gunung, dan ke negara-negara di utara.

Mau merokok? Silakan! Tawaran si kakek kutolak dengan halus. Aku berdalih bahwa aku memang tidak merokok. Ia tersenyum. Namun, perlahan wajahnya ia dekatkan ke wajahku. Lakunya serupa orang yang hendak membeberkan rahasia besar.

Para pemimpin kami yang berpengaruh saling berlomba mendapatkan proyek. Dan, untuk mendapatkan itu, mereka harus menerima konsesi dari pemerintah yang lalim yang dilakukan secara rahasia di Jakarta.

Kabarnya, setelah golongan pergerakan menguasai parlemen maka saat itu juga menjamurnya aksi kriminalitas?

Kakek itu tertawa. Gelas berisi kopi dibawanya ke mulut, diseruput selekasnya, lalu ia berkata, beberapa proyek berhasil diketahui oleh para pejuang kelas paria yang banyak itu. Dan, mereka segera mengangkat senjata-senjata kiriman yang dibawa melalui Selat Malaka lintas Malaysia dari timbunan di lereng-lereng gunung. Dan, luka tanah ini lagi-lagi menganga. Pemerintah goblok ini hanya melihat beberapa kasus kekerasan sebagai peluang membenturkan kepala antara sesama mereka, yakni si pengkhianat dan si pejuang rakyat.

Tentu saja militer punya kepentingan yang jelas. Kau tahu mengapa? Di negera-negara seperti negara kita, negara ketiga, memang telah ditancapkan metode menancap kuku kekuasaan melalui aksi brutalisma dalam tata ukuran demokratisasi omong kosong. Demikianlah, tanah ini menjadi kuasa pasar dunia, neoliberalisme.

Apakah seperti Sabang yang kini kembali hendak dijadikan pelabuhan internasional seperti dulu-dulu itu? Si kakek tertegun rupa-rupanya. Lalu seperti ada sesuatu yang mencengkamnya secara menyakitkan; terbersit lewat kata-katanya, kau masih terlalu kecil kalau mengambil permasalahan itu. Saya katakan terlalu kecil. Sebabnya, karena daya penghancur kepada kita, dilakukan secara struktural oleh paham neoliberalisme. Tapi, kita, selalu sempit dalam melihat gejala-gejala awalnya. Seolah-olah etnosentrisma semata-mata, seolah-olah hanya hegemoni suku bangsa terbanyak atas suka bangsa minoritas.

Celakanya, para agamawan pun punya perspektif berbeda sama sekali. Perang yang kini kembali berkecamuk karena ketak-syukuran kita kepada Tuhan. Ditambah misi zending sebagai momok yang membuat kita sangat gampangnya untuk dibodoh-bodohi.

Aku turun dari rumah panggungnya. Masih kuingat jelas wajah-wajah berbingkai mewah yang terpajang di ruang tamu; Dr. Hasan Tiro, Teungku Abdullah Syafi’ie, Teungku Ishak Daud, Teungku Usman lampoh Awe, dan beberapa orang lagi yang pernah kubaca dalam sejarah pergolakan tanah ini di internet dan dalam arsip-arsip lama di markas.

Sesampainya di kamar losmen kelas kambing yang kusewa di kota kecil ini, kurang lebih 70 kilometer arah timur kota Banda Aceh, segera kutuliskan laporan singkat kepada atasan atas nama sandiku; Nur el-Samir.

Bravo, Pak. Orang-orang dan rumah-rumah di lereng gunung xvii harus segera disekolahkan. Nur el-Samir


Gemasastrin

Blang Oi, 03/06/09

Surat Cinta

Surat Cinta

surat

Edi Miswar Mustafa

Tanpa sengaja aku menemukan surat-surat simpanan ibu. Sungguh, benar-benar tak menyangka bahwa ibuku demikian harum di masa mudanya. Telah kuhitung semuanya; semua berjumlah 569 pucuk surat . Dan, kiranya, bukan dari ayahku. Hm … apakah ibu selingkuh? Tapi hanya dari laki-laki itu seorang.

Suatu ketika kuberanikan juga diriku bertanya. Sejenak ibu terlongong seperti orang yang kepergian ruh dari tubuh. Lantas berceritalah beliau bahwa ayah di masa hidupnya mengenal laki-laki yang menulis surat untuk ibu, tapi ibu tak pernah memberitahukannya kalau surat-surat itu dikirimkan laki-laki itu. Sampai kemudian ayah meninggal dunia dan laki-laki itu melamar ibu.

“Ibu bilang, kamu belum pernah berkeluarga, alangkah sayangnya seorang laki-laki bujangan menikahi janda beranak tiga,” kata ibu. Langit hari itu sungguh biru. Lalu ibu mengatakan, “Mungkin surat-surat itu ibu bakar saja.”

“Biar Neisha bakar, Bu. Tapi, Neisha mau baca dulu, ya,” tukasku. Dan aku mengejar ingin tahuku kepada ibu, “Apakah laki-laki itu mau mendengar penolakan ibu.”

Ibu tersenyum, “Ya, dia hanya mengatakan begini; nurul, rupa-rupanya kamu memang sama sekali tak mau menerimaku. Tapi, kemudian dia menikahi seorang perempuan yang paling genit yang pernah ia kenal. Dan itu benar, ibu beberapa kali sempat bertemu.”

Surat pertama yang kupilih untuk kubaca adalah yang bersampul penuh bunga-bunga krisan, warnanya coklat tua campur merah mawar.

Hai, Nurul, apa kabar hari ini. Moga kamu selalu dalam keadaan bahagia. Ya, bahagia. Apakah bahagia itu? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin serupa perasaan orang yang rajin shalat sesudah melaksanakan ibadah itu dalam lima kali sehari.

Oya, gimana drama kami kemarin, bagus tidak. Sebenarnya aku tidak berani jadi bencong, mengenakan rok, dan ditonton sedemikian banyak teman-teman. Aku lihat kamu di depan panggung, nyaris saja aku tak berani tampil. Apalagi konsep drama komedi yang kami bawakan. Saat-saat aku harus menari persis seperti orang gila.

Tapi, terus-terang, aku sangat senang telah dapat membuatmu tertawa-tawa bersama yang lain. Memang, di sela-sela lakonku, aku sempat melirak-lirik ke arahmu. Kamu mengenakan jilbab hitam di dekat pohon waru. Hm … maaf ya, fotomu ada aku ambil beberapa lembar dari laptop Herman.

Surat kedua yang kupilih, yang kertasnya berwarna krem dengan bunga-bunga tulip tapi warnanya tidak asli lagi.

Hai, cantik, kamu lagi marahan sama aku ya. Gitu saja kok marah. Aku memang bilang sama teman-teman kalau aku iseng ‘ngirim sms ke koran. Aku pikir, apa salahnya mengungkapkan cinta sama seseorang yang kita sayang. Lagipula, coba lihat sms-sms yang banyak bertebaran di situ, kebanyakan sms protes melulu.

Paling tidak, aku sudah berani bilang kalau aku suka kamu, Nurul he he he ya I love U…

Surat ketiga kertasnya putih agak polos, kecuali setangkai anyelir di kiri bawah kertas. Maaf, kalau karena cerpen itu kamu bersedih. Pak Budi mungkin belum tahu cerpen yang dimuat di tabloid kampus maka beliau ‘nyapa Nurul dengan membawa-bawa perasaan Nurul seperti di cerpen Malam Tahun Baru yang aku ikutkan ke lomba di PEMA. Cerpen itu aku apload di milis gemasastrin[1].

Sebenarnya, tak ada niatku untuk membuatmu malu. Aku dipanggil Pak Teuku, Pak Azwardi, dan Pak Mukhlis gara-gara cerpen itu. Aku cuma mau mengungkapkan kalau aku benar-benar sayang sama kamu, Nurul.

Sialnya, bukannya harapan itu tercapai, tapi malah kamu semakin jauh dariku. Kamu tambah membenciku. Kamu akan melupakanku sampai seumur hidupmu.

“Sudah surat ke berapa?” Tiba-tiba ibu duduk di sebelahku. Aku jawab, sudah surat ketiga. Ibu tersenyum dan berlalu. Tapi beberapa menit kemudian beliau datang lagi. “Nanti malam saja baca lagi. Sekarang sudah sore. Ayo, apa tugasmu, itu ayam dan itikmu sudah minta makan.”

Aku mengembalikan surat-surat itu ke dalam bundelannya. Kulihat ibu tersenyum-senyum setiap kali memapasiku. Entah kenapa.

Tanjong Selamat, 25 Juni 2009

Gemasastrin

Selasa, 28 Agustus 2012

Aku, Kakek, dan Perempuan Tua itu

Aku, Kakek, dan Perempuan Tua itu

Edi Miswar Mustafa

Hujan sangat deras. Jarak pandang hanya beberapa meter saja ke depan. Kuparkirkan mobil di tempat biasa. Aku turun. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat satu spanduk film yang diangkat dari novel karya kakekku. Perlahan kutelusuri dinding yang penuh dengan sticker film, juga dari novel kakekku. Nama beliau tertulis pada bagian bawahnya; film ini Diangkat dari Novel Tuanku Luqman. Salah satu dari poster tersebut mepampang wajahku karena di film itu aku yang memerankan tokoh Mira. Sosok mahasiswi alim yang dulu dikagumi kakek. Tapi, si mahasiswi membuat kakek patah hati. Meninggalkan bangku kuliahnya. Menghancurkan harapan kedua orangtuanya padanya menjadi seorang guru. Lalu sepenuhnya hidup dari menulis.

Sebenarnya, keinginan untuk menulis hanya karena kakek ingin mengatakan segenap impiannya pada dambaan hatinya.

Sesampainya di ruangan luas tersebut aku disambut oleh ketua panitia sendiri. Dibawa ke depan ruangan dan dipersilakan duduk di dekat seorang wanita yang penuh dengan uban di balik selendang hijau gelap yang menutupi sebagian kepalanya. Ia tersenyum kepadaku, tapi tidak mengatakan apa-apa. Nampak olehku sejenak giginya yang masih terawat baik. Ia datang bersama seorang gadis indo yang beberapa menit kemudian kuketahui sebagai cucunya.

Ruang penuh mereka yang menyenangi film-film yang diangkat dari novel kakek. Aku mengenal beberapa orang yang selalu hadir dalam acara premiere film seperti ini. Mereka ikut memberikan pendapat bahkan kritik kepada tim film, misalnya; menurut mereka film tersebut telah banyak berubah dari novel aslinya. Sebentar kurekatkan syalku. Penyejuk ruangan seharusnya dikecilkan lagi. Kulambaikan tangan kepada seseorang yang mengalungi badge kepanitiaan dan memintanya mengecilkannya sampai angka sepuluh saja. Sementara itu MC di podium, sebelah kiri meja kami, mulai membuka acara. Ia memperkenalkan siapa-siapa saja yang duduk di depan. Yang tidak kuketahui adalah nenek tua itu maka aku menyimak baik-baik. Produser film, sutradara, aku, Ibu Mira Keumala, cucunya; Stefani Ramlah Montalban, dua pemeran utama, dan penulis skenario.

Aku tercekat. Tak sadar aku menoleh ke arah perempuan tua itu. Aku benar-benar mematung demi mengetahui siapa sebenarnya nenek tua di sampingku. Beliaulah mahasiswi alim yang dulu dicintai kakek. Cinta yang membuat kakek rela ditinggalkan istrinya, nenekku —karena tidak tahan dianggap hanya sebagai pabrik anak. Bayangkan bagaimana kakek mencintai nenek tua ini sehingga membuat nenekku tak sanggup lagi hidup bersama. Ibuku, anak pertama diberi nama Mira Keumala. Anak kedua Amir Keumala. Anak ketiga perempuan dan bernama Armi Keumala. Keempat perempuan juga, nama makcekku itu Irma Keumala. Mira, Amir, Armi, dan Irma; hanya empat huruf itu. Keumala nama belakang orang yang dicintai kakek sekaligus nama tanah kelahirannya di Kabupaten Pidie.

Cahaya berkeredepan dari kamera fotografer yang menumpuk-merunduk antara kami dan peserta yang memenuhi ruangan. Sekali lagi aku menoleh ke arah perempuan tua yang berseri itu. Pendengaranku tak lagi perhatian dengan pemaparan produser yang mengemukakan sisi sosio-politik yang diangkat dalam film ini. Tsunami, MoU Helsinki, pemilu yang diikuti partai-partai lokal, dan terbentuknya lembaga Wali Nanggroe. Di film ini, menurut produser, kita dapat melihat Aceh dalam masa transisi yang disorientatif. Ironisnya, golongan penguasa Aceh saat itu malah menginginkan Aceh kembali ke sistem feodalistik sebelum diserbu Belanda pada tahun 1873. Terutama setelah pilkadasung pertama yang diikuti oleh 39 partai nasional dan 6 partai lokal. Ternyata perdamaian dan harapan untuk berdemokrasi yang sesungguhnya masih belum beranjak jauh dari pola-pola menggiring sapi ke kandang zaman partai beringin menguasai Indonesia selama 32 tahun. Budaya kekuasaan hanya berganti subjek, tetapi objek tetap sama; rakyat kebanyakan. Pemerintah pusat kembali tidak memercayai provinsi ini dan mengirimkan alat negara lebih banyak. Nyaris menyamai masa darurat militer I dan II yang pernah diberlakukan.

Aku tidak tahu lagi apa yang produser katakan setelah itu. Aku larut dalam pikiranku. Menatapi pipi yang sudah kempot itu. Dan, aku ingat salah satu sajak dalam novel Keumala. Mira saat itu bertugas mengurus KHS[1] dan KRS[2] semester genap. Kakek mencoba menyapanya saat mereka di lobi fakultas, ketika mahasiswa sejurusan tak seorang pun di tempat itu. Tetapi Mira tak memedulikan kakek. Kakek terduduk seorang diri di kursi lobi dan menulis puisi berjudul; “Platonius I”.

Hari sehabis hujan
“Adakah yang lebih menyenangkan dari memandangnya?”
Aku menoleh ke lain arah. “Tidak. Mengapa kau selalu ingin tahu apa yang kupikirkan?”
Kurasa ia marah. Ia menjauh dariku dengan cepat.

Kurasakan seseorang menyadari kericuhan kami,
yang kupandangi dari tadi itu pun sekilas melihatku.
Aku coba tersenyum. Tapi ia tak mau tersenyum.
Ia menjauh dariku. Gerakannya perlahan
kumaki ia dalam hati, “Gadis tolol.”

Jerawat itu tak ada lagi kini. Hanya kulit penuh keriput yang tampak di mataku. Ia sudah tua sekali. Kuperkirakan mengenai umurnya pastilah 87 tahun. Karena bila kakek kiranya masih hidup umurnya sekitar 93 tahun. Mereka satu angkatan memang. Tapi kakek sempat menganggur selama tiga tahun karena lari ke Jawa. Saat itu kakek diminta lari orangtuanya ke tempat abang sulung kakek agar beliau tidak lagi terlibat dengan orang-orang gunung selepas Darurat Operasi Militer I. Kemudian kakek kembali ke Aceh dan kuliah sebagai calon guru sekolah dasar selama tiga tahun. Entah bagaimana, kakek tiba-tiba ingin jadi seorang penulis sehingga ia memasuki FKIP yang tertera kata ‘sastra’-nya. Di sanalah kakek berjumpa Mira Keumala yang berselisih umur sekitar enam tahun.

Aku merasa kepala nenek di dekatku bergerak perlahan ke arahku. Rupanya benar. Ia menoleh ke wajahku. Kali ini sutradara sedang mengupas pengadeganan-pengadeganan mengapa tak sepenuhnya selaras dengan yang di novel. Sutradara menjelaskan bahwa bahasa visual itu berbeda dengan bahasa tulis. Perbedaannya barangkali sama dengan keindahan bahasa lisan seorang mubaliq dibandingkan keindahan bahasa tulisan seorang kolumnis di surat-surat kabar. Tentu saja keindahan-keindahannya berbeda.

“Siapa namamu?” Seperti berbisik kudengar ia bertanya. Aku menatap kedalaman matanya dan mencoba tersenyum. Kudekatkan wajahku ke arahnya, “Deca. Deca Rahayu,” jawabku.

“O ...” Bola matanya perlahan menghilang. Tapi tak lama liang itu kembali membuka. Aku melihat isyarat matanya untuk mendekat. Katanya lirih, “Deca adalah nama kakak angkatan kami. Satu tahun di atas kami, kakekmu. Tapi kakekmu jauh lebih tua darinya. Dia seorang wanita cantik yang juga sangat perhatian pada kakekmu.”

Benarkah demikian yang sebenarnya? Tak pernah kumendengarnya dari siapa pun tentang ini.

“Apakah di keluargamu ada yang bernama seperti Louisa, Carmen, Maryam, Vika, dan ... hm, Eva?” Selekas mungkin aku memindahkan pandangku lagi kepadanya yang masih saja tersenyum. Memang, nama-nama itu adalah nama-nama sepupuku dan seorang kakakku. Perlahan aku mengangguk kepadanya.

“Louisa, kuliah di Akademi Keperawatan Unsyiah. Dia mencintai kakekmu. Carmen, mahasiswi Pendidikan Kimia, berasal dari Sabang. Dia juga menggandrungi kakekmu. Maryam, juga di Pendidikan Kimia. Sementara Vika, di Kedokteran.”

Pembicaraan terputus sampai pada pertanyaanku, dari mana nenek tahu? Belum sempat ia menjawab, MC menyebut namaku sebagai keluarga penulis novel yang akan difilmkan, juga seorang feminis dan juga redaktur pelaksana di sebuah majalah perempuan. Sebenarnya aku dihadirkan dalam komperensi pers ini sebagai pemateri diskusi yang akan mengemukakan bahwa kekalahan seorang laki-laki dalam kehidupannya bukan karena dirinya semata, tapi bisa jadi karena wanita. Pendapatku ini selalu demikian dalam setiap acara pemutaran perdana film dari novel kakek. Sebab, aku beranggapan bahwa kakekku yang selalu menulis novel-novel bertema cinta patah hati merupakan contoh yang harus dilihat ulang oleh para feminis, terutama mereka yang radikal yang mengklaimku sebagai perempuan-perempuan yang ingin mengembalikan hegemoni laki-laki atas perempuan; perempuan sebagai manusia kelas dua.

Lalu nenek tua di sebelahku yang bicara. Selama ini ia tinggal di Munchen, Jerman. Suaminya telah meninggal 23 tahun lalu. Dahulunya mereka sepasang suami istri yang diterima mengajar Mata Kuliah Bahasa Indonesia di salah satu perguruan tinggi di Jerman. Akhirnya mereka pindah kewarganegaraan dan setelah suaminya tiada, bersama anak-anaknya, dia membuka restoran masakan khas Aceh di Munchen.

Dia tahu dari televisi dan juga dari internet bahwa beberapa novel yang menceritakan dirinya telah difilmkan. Tapi berhubung usia ia urung ke Aceh. Sampai kemudian produser film mengajaknya pulang ke tanah kelahiran bersama seorang cucunya.

***

Saat duduk di bangku bioskop di gedung yang lain ia berbisik padaku, “Deca tahu mengapa seakan-akan saya sangat membenci kakekmu dalam novel-novelnya. Sebabnya, kakekmu berwatak cabul. Tapi, itu di awal karya-karyanya. Mungkin, sekarang bagi kalian tidak masalah. Tapi, pada waktu saya masih muda dulu. Itu sangat memalukan. Saya mengingatnya, kakekmu menulis tentang saya dalam cerpen-cerpennya; Malam Tahun Baru, Gadis Idaman, Mantan Suamiku, Sesal 1, Sesal 2, Surat yang Tak Jadi Dikirim, Liburan ke Pantai, Perang pun Kembali Berkecamuk, Nurul Hayati, Surat Cinta dan lain-lainnya.”

“Nenek Mira masih menghafal semuanya,” potongku takjub.

“Tentu. Tentu saja, Deca,” timpalnya, sumringah.

Film itu diangkat dari novel pertama kakek yang berjudul; Keumala.

Rongga dadaku memerih merasakan ketersiksaan jiwa kakek dalam film itu. Aku merasakan desakan air yang panas di mataku.

Tiba-tiba aku ingin mengetahui keadaan perempuan tua di sampingku. Nenek Mira ternyata hanya tersenyum-senyum. Matanya berbinar. Ia tidak tersedu seperti kebanyakan perempuan yang lain. Ini membuatku bingung. Heran. Mengapa demikian?

Belakangan, setelah ia kembali ke Jerman, ia menelponku dan kutanyakan hal itu. Kudengar ia menjawab seraya tertawa kecil, “Deca, kakekmu itu berimajinasi. Kakekmu tidak sehebat laki-laki muda di film itu. Kakekmu melebih-lebihkan perasaan cintanya pada saya dalam novel-novelnya. Sebenarnya kakekmu tidak pernah sejujur itu pada saya. Maaf, ya, Deca kalau saya harus mengatakan ini. Assalamu’alaikum.

Tanjong Selamat, 27 Februari 2009

Edi Miswar Mustafa: dilahirkan di Teupin Pukat, Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Alumnus Sekolah Menulis Dokarim dan aktif di Komunitas Kanöt Bu. Cerpen-cerpennya terkumpul dalam antologi bersama seumpama Meusyen (2006), Sepucuk Surat Buat Emak (2008), dan Lelaki di Gerbang Kampus (2010).

Riwayat Publikasi:

Cerpen “Aku, Kakekku, dan Nenek Tua itu” pernah dimuat di Harian Aceh, 16 Januari 2011



[1] Kartu Hasil Studi

[2] Kartu Rencana Studi

Sesal

Sesal

Oleh; Edi Miswar Mustafa*

Sebuah lukisan abstrak. Di latarnya tampak gedung-gedung yang hancur-lebur. Mulut kanak-kanak yang terbuka lebar. Raungan kanak-kanak itu begitu memilukannya ketika itu. Di bawah bocah tersebut tertulis namanya dan sedikit catatan; novel debutan fenomenal tahun ini.

Ia baru beranjak 24 tahun saat itu. Kuliahnya terbengkalai. Satu cerita pendeknya di tabloid kampus membuatnya begitu sesal. Padahal, yang ia inginkan dari cerita pendek itu hanyalah agar gadis itu tahu betapa sangat ia mencintainya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Ia kehilangan teman-temannya. Bahkan dosen-dosennya memberinya peringatan keras.

Kini, di belakang sopirnya ia membuka kembali lembar demi lembar novel pertamanya itu. Judulnya ‘sesal’. Rasa-rasanya manakala membaca kembali novel itu, semua seperti baru kemarin terjadi. Seperti mimpi. Mimpi yang berlalu dengan cepatnya.

Tetapi ia masih mengenalnya. Senyumnya. Cara perempuan itu menyapanya di rumahnya tadi. Dan, setelah 43 tahun 5 bulan 25 hari, ternyata segala geraknya tetap saja masih yang dulu dikenalnya. Walau sekarang telah bercucu 12 dari 5 anak-anaknya.

Hanya sekitar ¾ jam ia di rumahnya yang asri itu. Ditemani suaminya yang seolah-olah tak putus-putusnya ingin bertanya mengenai novel pertamanya. Apakah Anda masih mencintai istri saya, tanya suaminya. Pertanyaan itu semula tak ingin dijawabnya. Pasutri itu tersenyum-senyum. Kemudian ia menjelaskannya yang lantas ditimpali laki-laki berkaca tebal itu, mengapa harus berpanjang-panjangan dengan bercerita tentang genosida bangsa Palestina.

Harus, sahutnya, karena novel itu ditulisnya dalam perasaan sesal yang tak ketulungan kepada agama yang dianutnya. Agama yang umatnya membiarkan sesama dibantai. Sama dengan sesalnya ia gara-gara cerita pendek itu, yang seakan-akan membuatnya ingin mati saja. Satu prosanya yang melukai hati seseorang yang telah jadi belahan jiwanya.

Jadi Anda masih mencintai istri saya, sergah laki-laki itu. Sampai ujung usianya, katanya lirih setelah terdiam untuk beberapa lama.

Kenapa Anda tidak menikah, tanya laki-laki itu lagi. Ia menjawab, mula-mula ia hendak menunggu jandanya. Tapi, waktu meluncur terlampau cepat, tahu-tahu baru kemudian ia merasakan betapa sepinya hidup tanpa seorang istri menemaninya. Sayangnya, kesadaran itu baru muncul ketika ia telah menjadi kakek-kakek.

Ketika sopirnya mengatakan bahwa mereka sudah sampai di rumahnya yang baru beberapa hari dibelinya di kota kecil itu, ia merasakan kekesalan masa muda itu kembali menggodamnya. Ia masuk ke dalam rumah dengan dipapah sopirnya dan dibantu seorang pembantunya yang setia. Di kamarnya yang penuh-penuh buku-buku itu ia kembali menulis. Dan, sepertinya ilham untuk menulis dan terus menulis sekonyong menggelora bila wajah perempuan itu hadir di depan matanya. Dan, setelah beberapa puluh lembar ia keluar dan beristihat di gazebo. Alunan biola yang dimainkannya menggeletarkan malam. Perih hatinya. Matanya berair.

Keumala mengapakah dirimu, nyanyinya seraya memandang langit yang bertabur bintang. Maafkan aku karna terlalu mencintaimu. Hidupku dan hidupmu diluruhkan oleh sesal. Kau hilang jauh sekali. Aku menjadi hari di kala mendung.

Lalu seperti biasanya keponakannya datang menemaninya. Membawa nampan berisi kopi dan kudapan kesukaannya. Kata-kata yang kerap keluar dari keponakannya, Pak Cek, menangislah. Rasakan sesal itu. Oya Pak Cek, novel Keumala itu sudah lima ratusan halaman aku lihat. Mau dihabiskan sampai ke berapa?

Darussalam, 20 Januari 2009

Sesal

Sesal

Oleh: Edi Miswar Mustafa

Aku mati. Pasti. Karena mereka telah mengguguk. Istriku mendekapku dengan eratnya. Anehnya, bau wangi tubuhnya yang selalu wangi itu tak tercium lagi. Ah, sesalnya aku. Benarkah aku sudah mati.

Kulihat bibir merah istriku. Sesalnya aku telah mengotori bibirku ini dengan bibir itu. Air liur yang tumpah ke mukaku. Ah, sepertinya ia bukan menangis. Tetapi membanjiri wajahku dengan air liurnya serupa air bah yang menggenangi Jakarta setiap tahunnya.

Hei … sudahlah. Kau akan merasakan sebagaimana aku merasakannya hari ini. Berpura-puralah kau menangis. Sebentar lagi malaikat akan sampai. Apakah kau kira tangis seperti tangismu akan memberatkan siksaanku di alam lain ini. Kau pun akan menyesali ini seperti sesalku hari ini. Tuhan akan melaknatmu seperti tuhan melaknatku hari ini. Tunggulah.

Kemudian seseorang berkata padanya. Kudengar suara itu dan aku tahu bahwa itulah suara adik sepupunya. “Sudahlah, Kak Halimah. Semua yang bernyawa pasti mengalami hal serupa ini. Ditinggalkan oleh ruh. Janganlah lagi kakak menangis. Tidak baik bagi keadaan Abang.”

Nama perempuan itu Maryam. Adik sepupu istriku. Dulu, ketika dia pertama kali menjejak Jakarta, itulah awal mula kami melakukan hubungan badan. Beberapa kali malam pertama itu. Sialan. Aku selalu kalah. Dia benar-benar luar biasa.

Lalu Martono, temanku – bisa dibilang bawahanku – melamarnya. Martono di awal-awal perkawinannya sempat kulihat berwajah murung. Karena kami biasa terbuka maka dia bicara kepadaku tentang permasalahan yang tengah dihadapinya; rupanya benar seperti dugaanku. Kemurungannya karena Maryam tidak lagi punya kesucian. Tanyaku waktu itu, mengapa sampai demikian. Martono mengungkapkan cerita si Maryam kepadaku. Begini ceritanya.

Di Aceh dia sempat pacaran. Lama. Hubungan mereka dari pertama masuk kuliah sampai selesai kuliah. Kemudian kedua orang tua mereka menyetujui adanya pertunangan. Semenjak pertunangan itulah, suatu hari kecelakaan itu terjadi. Mula-mula Maryam bersikukuh untuk tetap setia pada kesuciannya. Tapi tunangannya itu marah-marah saja semenjak keputusan itu diungkapkan Maryam. Dari hari ke hari perubahan pada laki-laki itu tampak olehnya. Pertemuan-pertemuan mereka menjadi tidak menyenangkan. Sampai-sampai Maryam kuatir dibuatnya. Dan, ketika suatu malam laki-laki itu meminta, Maryam tidak lagi menolaknya.

Mendengar itu dari Martono, hampir saja aku terjengkang tertawa (Maryam pernah mengutarakan versi bohong ini padaku sebelum akhirnya ia mengungkapkan cerita yang sebenarnya). Namun biarpun Margono itu lugu, aku suka padanya. Hampir tidak ada tugas yang kutugaskan padanya tidak berhasil dia kerjakan. Dia adalah andalanku. Oleh karenanya, sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak tertawa.

Kuajak dia keluar, ke rumah makan tidak biasanya baginya. Kepada sekretarisku kukatakan kalau kami tidak kembali lagi ke kantor hari ini. Hubungi saja aku melalui telpon. Itu pun kutambahkan; apabila perihal itu benar-benar penting. Jika tidak terlalu penting, katakan saja akan kita bereskan besok.

Sekretarisku yang tinggi, bahenol, putih, berambut lurus, berbibir seksi, dan bermata aduhai itu mengangguk. Tidak ada sama sekali padanya kesan kalau aku pernah beberapa kali menikmati tubuhnya di ruanganku – belakangan Margono tahu affair aku dan Wilhemina, si peranakan Jerman dan Manado ini. Tetapi Margono yang berdarah ninggrat Yogya itu sungguh-sungguh membuatku terharu karena sikap tutup mulutnya yang sepantasnya. Seolah-olah tak bedanya di matanya antara aku yang bejat dan aku di depan istriku; seorang laki-laki yang setia, jujur, bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang kepada anak-anakku.

Margono, kataku di rumah makan internasional Perancis itu, kalau aku jadi kau, aku tak akan bermurung diri. Mengapa, karena dua pertimbangan. Apalagi tunangan Maryam telah meninggal.

Aku ingat pada rokok 555-ku mengepul ceria waktu itu. Dari lantai 24 aku melihat mahasiswa-mahasiswa Islam di depan kedutaan besar Amerika Serikat. Lautan massa berwarna hijau di bawah sana sedang berdemonstrasi atas sikap diam negara adi kuasa itu kepada Israel yang menghancur-leburkan Jalur Gaza dalam dua mingguan itu. Kemudian aku menoleh ke kanan, melihat betapa mulusnya paha seorang gadis yang mengenakan celana pendek nyaris ke pangkal paha bersama teman laki-lakinya. Saat itu, aku yakin benar bahwa si gondrong itu kekasihnya. Lalu sekejap mataku kelayapan ke tonjolan di dadanya. Lalu aku melihat lagi wajah Margono yang berhitung pesek dan berdahi lebar itu.

Dua pertimbangan Gono, kataku. Maryam memberikan itu bukan karena kepentingan pribadi, maksudku, bersenang-senang. Ketika itu dia tentu tertekan, bukan. Kulihat Margono mengangguk-ngangguk. Matanya yang macam orang mengantuk itu menatapku lekat. Ketersimaan inilah ciri yang biasa kutandai apakah pesan yang aku sampai melalui alat wicara sudah dapat diterima atau belum sama sekali. Dia ingin tetap suci, tambahku, tetapi tunangannya, pusat segala harapan masa yang akan datang itu menginginkan bentengnya yang terakhir. Dan benteng yang terakhir itu telah dia pertahankan sekuat tenaga. Gono, sekuat tenaga. Seandainya kau jadi dia, apakah kau juga tidak bersikap demikian. Aku pikir siapa pun akan berada pada pendirian yang sama seperti dia.

Kulihat 555-ku terlantar di tanganku. Batang yang ketiga itu telah setengah menjadi abu. Segera kujentikkan ke asbak dan kemudian aku menyisapnya lagi dalam-dalam. Pandangku menebar. Pada asap pabrik yang membubung di jauhan, paha, tonjolan dada yang tadi, dan kembali ke kehijauan massa di bawah sana.

Akhirnya kami pulang. Wajah Margono tidak lagi murung untuk selanjutnya. Kalau pun dia bicara mengenai istrinya pastilah mengenai sesuatu hal yang menjadikannya sangat beruntung beristrikan Maryam. Tetapi sebagaimana umumnya perempuan, Maryam juga memiliki kelemahan yang umum itu. Dia perempuan yang mencintai harta. Dan bagiku itu sangat gampang. Segampang metabolisme di toilet hotel bintang lima. Keluargaku berlibur ke Milan, Margono beserta istri ikut. Ke Los Angeles nonton konser band favoritku semasa SMA. Hawai, ke pantai Waikiki. Mandi dengan bule-bule di sana (tentulah istriku dan Maryam juga pakai bikini). Ketika berlibur itulah tercipta banyak celah untukku bersama Maryam. Misalnya, aku instruksikan Margono ikut seminar yang kebanyakannya memang tidak perlu. Mewakiliku bertemu kolega di sebuah restaurant di salah satu sudut kota.

Sementara aku, aku pamit pada istriku. Satu alasan sudah cukup; urusan bisnis. Lalu kujemput Maryam di dekat apartemennya. Kami menyewa sebuah kamar hotel kecil yang jauh dari apartemen sewaanku dan apartemen Margono.

Maryam, kuda betinaku. Begitu biasanya dia kusapa saat-saat kemesraan itu. Bersamanya aku teringat kuda-kuda liar mongol yang melintasi gurun gobi. Rambutnya yang lebat seperti surai kuda. Kami serupa pengelana mengolia atau pun tentara Jengis Khan yang menyerbu Bahgdad pada abad pertengahan. Begitu tangkas dan ganas. Aku tak pernah membayangkannya cuma seorang anak desa. Sama sekali aku terlupa oleh kenyataan Maryam yang sesungguhnya.

Kau kuda betinaku, bisikku pada libur bareng pertama ke Kuta, Bali. Aku terkapar. Benar-benar lelah. Wajahnya di dadaku saat aku menggeraikan rambutnya yang basah oleh keringat.

Aku tidak mencintai kakakmu. Aku mencintai kau, Maryam. Kata-kataku itu mengagetkannya. Dia kelihatan senang. Tetapi sesaat kemudian dia seakan-akan ditimpa oleh suatu perasaan bersalah. Kepalanya menunduk. Merunduk. Kepala itu kemudian perlahan tergerak-gerak. Mengeleng. Aku mengangkat mukanya dan kulihat air mata itu bercucuran.

Maryam, maafkan aku. Apakah aku salah, sergahku panik. Dia bilang, aku tidak salah. Dialah yang salah. Lantas berceritalah ia akan jasa-jasa istriku yang membiayainya sekolah sampai ke perguruan tinggi di Banda Aceh. Bisa melihat Jakarta. Padahal, siapalah aku, ungkapnya.

Dia hanya anak desa. Mengerjakan sawah bersama neneknya. Mencuci pakaian-pakaian tetangga yang meminta tenaganya. Menunggui durian jatuh bila musim berbuah. Memetik melinjo yang merah dan kuning lalu kulitnya dibuang kemudian melinjo itu dijual pada tengkulak-tengkulak yang datang dari arah barat kota kecilnya setiap pagi.

Kehidupannya membuat dadaku mendidih. Sungguh, orang tak akan tahu siapa dia di balik tubuh ramping, mulus, dan senyum penuh seri itu. Aku mengerti perasaannya. Istriku adalah penolongnya. Dia tidak akan sudi jika aku meninggalkan ikatan perkawinanku. Dia hanya ingin jadi kuda betinaku.

Pikiranku kerap melayang padanya. Aku sama sekali buta bagaimana kehidupan ini sebenarnya. Yang terlintas di kepalaku hanya uang dan uang serta pantat perempuan. Wilhemina kemudian kujauhi. Simpananku di Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar kuputuskan dengan cara-cara yang tidak akan membahayakanku untuk selanjutnya.

Perasaan Margono kujaga sangat. Margono harus menyayanginya seperti aku menyayanginya. Cerita-cerita Margono tentangya sama persis seperti pernah kudengar sendiri dari mulutnya. Bagaimana perang telah menghancurkan banyak keluarga di kampung-kampung. Maryam hanya ingat ketika kedua orang tuanya menitipkannya pada sang nenek. Wajah sang ibu. Wajah yang terisak-isak. Tangan sang ayah yang memegang kedua pundaknya, kemudian kepalanya. Lalu berkata kepadanya, kau tinggallah bersama nenek. Kau jangan nakal. Kau harus pandai. Kau, Maryam, harus mengaji. Bacalah surat yasin pada tiap malam Jum’at. Dan, satu lagi, patuh pada nenekmu.

Aku kerap susah tidur memikirkannya. Bahkan setelah berlayar malam bersama istriku. Kuambil rokokku. Menyulutnya. Rasa simpatiku yang dalam memintaku untuk terus bertanya; mengapa negeri tolol ini senantiasa penuh konflik.

Kepada para jenderal yang dekat denganku mulai kucari pangkal sebab itu. Para pensiunan militer. Hanya itu, kataku setengah kaget kepada mereka. Kegagalan dua presiden yang lama berkuasa bagi rakyatnya adalah mampu dikangkangi alat negaranya. Militer ibarat anak kesayangan dalam sebuah keluarga. Dia dimanjakan karena padanya terdapat potensi-potensi yang tangguh yang dapat menolong orang tuanya. Sementara anak-anaknya yang lain dibiarkan centang-perenang. Dan si orang tua keluarga besar itu bermasa bodoh dengan hal itu. Dia orang tua dan orang tua harus mempunyai kekuasaan penuh.

Orang tua. Aku juga orang tua. Kelakuanku sama buruknya dengan kelakuan pemimpin bangsa ini. Istri orang, istriku. Anak orang yang mengais mimpi demi sejarah hidupnya, kuberi dia kemewahan, kesenangan, dan aku menghancurkan tunas-tunas penuh keceriaan menatap matahari pagi itu di bawah perutku.

Dan anak-anakku. Istriku. Seperti militer di negara ini. Mereka sampah yang selalu terhias komplit karena uangku.

Anak-anaku, banyak artis-artis di negeri ini yang bercerai dengan pasangan mereka karena anakku. Anakku mampu menimbun mereka dengan kemegahan dunia yang busuk ini.

Istriku. Aku sedih sekali. Saat aku di ruang darurat ini, menjadi mayat hidup selama seminggu lebih ini, baru kusadari siapa dia. Perempuan jahannam itu. Aku cuma bisa melihatnya berciuman dengan Margono. Dan, aku, si raja real estate, si raja media, tidak bisa berbuat apa-apa.

“Tapi, Halimah. Bagaimana kalau Mas Mahmud sadar,” kata Margono kuatir di ruang inap rumah sakit ini.

“Alah, kau ini. Aku sedang bergairah, kau padamkan gairahku. Kita main dimukanya pun, dia cuma bisa nonton,” kata istriku yang mantan dokter itu dengan nada tinggi. Keduanya kulihat keluar.

Seminggu di rumah sakit itu, Maryam dan Margono sering melayat. Ketika Maryam meninggalkan Margono hari ini bersamaku, Margono menutup saluran oksigen ke pernafasanku. Dan aku hanya bisa melihatnya. Melihat Margono tersenyum bahagia.

“Maryam dimakan tunangannya. Kau pikir aku tidak tahu. Kau ajak kami berlibur. Kau pikir aku tidak tahu apa-apa hah. Aku dan istrimu pura-pura tidak tahu, kau tahu. Hanya pura-pura tidak tahu. Istrimu itu kambing betinaku.” Margono diam. Tiba-tiba dia bicara lagi. “Istrimu itu adalah kambing betinaku.”

Beberapa saat kemudian datang Maryam. Istriku. Anak-anakku. Dan istriku menangis histeris. Anak-anaknya, buah cinta kami, ya, mereka juga menangis.

Aku telah mati. Hidup ini benar-benar singkat. Melihat mereka, sesalku menjadi-jadi.

Aku tidak pernah berbuat baik. Aku menyesali hidupku. Sesal. Dan, sesal ini, ya, begitu miripnya dengan rasa sesalku ketika kusakiti hati seorang gadis semasa kuliahku dulu.

Sabtu, 24 Januari 2009