Sesal
Oleh; Edi Miswar Mustafa*
Sebuah lukisan abstrak. Di latarnya tampak gedung-gedung yang hancur-lebur. Mulut kanak-kanak yang terbuka lebar. Raungan kanak-kanak itu begitu memilukannya ketika itu. Di bawah bocah tersebut tertulis namanya dan sedikit catatan; novel debutan fenomenal tahun ini.
Ia baru beranjak 24 tahun saat itu. Kuliahnya terbengkalai. Satu cerita pendeknya di tabloid kampus membuatnya begitu sesal. Padahal, yang ia inginkan dari cerita pendek itu hanyalah agar gadis itu tahu betapa sangat ia mencintainya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Ia kehilangan teman-temannya. Bahkan dosen-dosennya memberinya peringatan keras.
Kini, di belakang sopirnya ia membuka kembali lembar demi lembar novel pertamanya itu. Judulnya ‘sesal’. Rasa-rasanya manakala membaca kembali novel itu, semua seperti baru kemarin terjadi. Seperti mimpi. Mimpi yang berlalu dengan cepatnya.
Tetapi ia masih mengenalnya. Senyumnya. Cara perempuan itu menyapanya di rumahnya tadi. Dan, setelah 43 tahun 5 bulan 25 hari, ternyata segala geraknya tetap saja masih yang dulu dikenalnya. Walau sekarang telah bercucu 12 dari 5 anak-anaknya.
Hanya sekitar ¾ jam ia di rumahnya yang asri itu. Ditemani suaminya yang seolah-olah tak putus-putusnya ingin bertanya mengenai novel pertamanya. Apakah Anda masih mencintai istri saya, tanya suaminya. Pertanyaan itu semula tak ingin dijawabnya. Pasutri itu tersenyum-senyum. Kemudian ia menjelaskannya yang lantas ditimpali laki-laki berkaca tebal itu, mengapa harus berpanjang-panjangan dengan bercerita tentang genosida bangsa Palestina.
Harus, sahutnya, karena novel itu ditulisnya dalam perasaan sesal yang tak ketulungan kepada agama yang dianutnya. Agama yang umatnya membiarkan sesama dibantai. Sama dengan sesalnya ia gara-gara cerita pendek itu, yang seakan-akan membuatnya ingin mati saja. Satu prosanya yang melukai hati seseorang yang telah jadi belahan jiwanya.
Jadi Anda masih mencintai istri saya, sergah laki-laki itu. Sampai ujung usianya, katanya lirih setelah terdiam untuk beberapa lama.
Kenapa Anda tidak menikah, tanya laki-laki itu lagi. Ia menjawab, mula-mula ia hendak menunggu jandanya. Tapi, waktu meluncur terlampau cepat, tahu-tahu baru kemudian ia merasakan betapa sepinya hidup tanpa seorang istri menemaninya. Sayangnya, kesadaran itu baru muncul ketika ia telah menjadi kakek-kakek.
Ketika sopirnya mengatakan bahwa mereka sudah sampai di rumahnya yang baru beberapa hari dibelinya di kota kecil itu, ia merasakan kekesalan masa muda itu kembali menggodamnya. Ia masuk ke dalam rumah dengan dipapah sopirnya dan dibantu seorang pembantunya yang setia. Di kamarnya yang penuh-penuh buku-buku itu ia kembali menulis. Dan, sepertinya ilham untuk menulis dan terus menulis sekonyong menggelora bila wajah perempuan itu hadir di depan matanya. Dan, setelah beberapa puluh lembar ia keluar dan beristihat di gazebo. Alunan biola yang dimainkannya menggeletarkan malam. Perih hatinya. Matanya berair.
Keumala mengapakah dirimu, nyanyinya seraya memandang langit yang bertabur bintang. Maafkan aku karna terlalu mencintaimu. Hidupku dan hidupmu diluruhkan oleh sesal. Kau hilang jauh sekali. Aku menjadi hari di kala mendung.
Lalu seperti biasanya keponakannya datang menemaninya. Membawa nampan berisi kopi dan kudapan kesukaannya. Kata-kata yang kerap keluar dari keponakannya, Pak Cek, menangislah. Rasakan sesal itu. Oya Pak Cek, novel Keumala itu sudah lima ratusan halaman aku lihat. Mau dihabiskan sampai ke berapa?
Darussalam, 20 Januari 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar