Selasa, 28 Agustus 2012

Ibu Bides

Ibu Bides

Oleh: Edi Miswar Mustafa

Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Meli ketika kutinggalkan. Ia pasti merasa sangat tidak kuhargai. Tapi itu akan lebih baik. Aku tidak ingin mengkhianati semua ketulusan yang telah diberikan Fatimah padaku.

Maka segera kutinggalkan Meli di posyandu, setelah meminta izin Pak Keuchik dan Pak Sekdes. Segera aku melangkah menuju arah timur. Aku tahu Fatimah pasti di mana jika siang-siang begini.

“Bang…!” sergah Fatimah antara kaget dan bingung. Sekelebat telah kunaiki dangau tempatnya bernaung. Ia mungkin melihat gelagat anehku. Tidak biasanya aku ke sawah sebelum bersalin lebih dulu dengan pakaian tua.

“Bang! Abang… ah,” Fatimah mengelak.

“Aku kangen kamu, Ma!” kataku berdalih setelah berhasil kurebut bibirnya. Ia memang biasa kupanggil ‘Ma’, singkatan nama pahlawan wanita dari Aljazair, Fatima.

“Jangan di sini, ah, malu! Tuh, dilihat orang.”

Seperti sebuah kelegaan, aku bebas lepas tertawa. Fatimah, kau begitu polosnya. Berbeda benar dengan Meli. Tapi bagi jiwaku kau tetaplah yang tercantik. Meski tanpa polesan dan dandanan yang pantas. Biarpun hanya berkain sarung batik motif parang rusak yang telah lusuh. Tiada apa pun yang melebihi pada dirimu dibandingkan dengan Meli yang sekarang berada di posyandu.

Memang, Fatimah jauh lebih sawo matang. Fatimah juga tidak memiliki rambut yang tentunya terawat di salon, apalagi bentuk tubuh mereka. Ya, Meli lebih tinggi, kelihatan lebih feminim dan nampak jauh lebih muda. Tapi, apakah perlu bagiku membandingkan mereka berdua? Apa pun yang terjadi, Fatimah, tetaplah istriku, pilihan hatiku.

Delapan tahun lalu, ketika ditempatkan di kecamatan pelosok ini sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA satu-satunya di kecamatan ini, aku merasa benar-benar memaknai apa artinya menjadi orang yang digagu dan ditiru. Aku memutuskan untuk tidak pindah ke kota, meski ibu dan Kak Rina memintaku memikirkan hal itu. Sungguh tidak menyenangkan memang. Bagaimana pun, kemudian aku lebih memilih menolong orang desa yang terkadang menemui naas hanya karena persoalan bahasa. Hanya karena tidak tahu antara panggilan Gam dan nama organisasi kaum pergerakan.

Pengabdian yang kulakukan mengingatkanku pada otobiografi seorang guru masa awal kemerdekaan. Aku begitu tertarik pada kehidupan pedesaan. Menjadi bagian dari masyarakat desa yang kucintai dan mencintaiku. Rasanya seperti di film-film saja. Apalagi setelah empat tahun aku di sini. Setelah bertemu dengan Fatimah. Sungguh mati, aku benar-benar kepincut dengan sikap malu-malunya. Pula letak bedaknya yang dipupur ke wajah. Betapa menornya dia. Aku tidak peduli ia hanya tamatan SMP. Sempat belajar di dayah selama lima tahun. Sekarang, waktu yang telah lalu itu seakan-akan melintas di hadapan mata.

Mentari pun telah turun. Sinarnya yang bersepuh emas itu, bagai memijat pori-pori.

“Bang… kita pulang, yuk!” ajak Fatimah seraya mengeloni buah cinta kami dalam gendongannya. Di hadapan kami hamparan persawahan menguning meriah. Cericit pipit dan gelatik masih terdengar bernyanyi. Ketika tali rentang pengusir gangguan burung-burung itu dikebut-kebutkan, bunyi klenengan kaleng susu bekas bersorak-sorai. Burung-burung itu pun terbang berkelompok-kelompok.

“Tapi, Ma, burungnya belum pulang, tuh,” kataku, sembari melongok ke bawah dangau. Sepatu yang kiri masuk dalam parit pematang.

Putri kami dikelonannya mendadak bergerak-gerak.

“Bangun?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya. Tiba-tiba tatapannya serasa menembus pandangku. “Kata Pak Sekdes, bides baru teman Abang, ya?”

Fatimah tersenyum. Entah karena melihat kekagetan di wajahku. Ah, aku lupa. Bukankah aku sendiri yang memberitahukannya bahwa hari ini Bides pengganti, datang dari kota. Sebenarnya waktu itu Pak Keuchik mengabarkannya pada ba’da magrib di meunasah. Lantas Pak Keuchik menyebut nama itu, sekaligus dari mana petugas itu berasal.

Tapi, kepada Pak Keuchik aku tidak mengatakan apa-apa. Meski aku tidak menyangsikan sedikit pun. Tentu dia, Meli Akhvina Mayahaziyani. Dan petugas itu ternyata memang Meli. Tempat dulu pernah terpatri segala sesal, kenakalan, kekonyolan, dusta, dan, ya, segenap keindahan.

“Abang. Abang… yuk!” Aku tersentak. Kurasai tangan Fatimah di bahuku.

Fatimah menggendong buah hati kami. Aku berjalan di mukanya menyusuri pematang sawah. Seorang tua yang memapasi kami memberi tabik.

“Assalamu’alaikum, Pak Pram.”

“Wa’alaikumsalam, Abu Leman!”

Dan kaki kami terus melarung. Jalanan kecil agak tinggi dari persawahan itu dahulunya adalah bekas jalan kereta api. Tapi besi yang melintang itu entah ke mana. Yang tersisa hanya jalan setapak ukuran satu meter lebarnya. Konon, menurut cerita tuha peut diambil oleh makelar besi yang datang dari kota.

Lelantunan ayat Alquran telah menggema dari corong pengeras suara meunasah. Di tikungan penghabisan, kulihat sosok itu berdiri dalam kepingan masa laluku. Di dekatnya seorang ibu tua yang disenangi banyak warga desa karena kebaikannya.

“Itu, ya, Bang, Bides baru?” tanya Fatimah. Yang terdengar aku menggumam mengiyakan. Aku berusaha mencoba bersikap sewajar-wajarnya.

Matanya masih tampak indah seperti dulu. Menyelidik dalam senyumnya. Pandangnya menggisar antara Fatimah, bayi kami, dan aku.

“Apa kabar, Pak Pram. Baru pulang dari sawah, ya?” sapanya ramah. Aku mengangguk.

“Meli, ini istriku,” kataku memperkenalkan. Keduanya mendekat berjabat tangan. Kudengar istriku menyebut namanya.

“Fatimah Hasan.”

“Meli AKhvina Mayahaziyani.”

Deg, aku menemukan terpaan pandang Fatimah sejenak. Aku sendiri, baru sekarang mendapatkan perbedaan keduanya. Namun, bagiku Fatimah bukanlah seumpama gagak. Sedangkan Meli adalah si burung merak.

“Kami duluan, Meli! Oya, tinggal bersama Ibu Zaenab, ya?”

“Oh, nggak, Pak Pram. Meli untuk sementara tinggal di kota kecamatan dulu. Kapan-kapan sajalah, Meli cari rumah di sini. Dan Meli harap, Pak Pram bisa menolong dalam hal ini.”

“Tentu, tentu. Aku akan menolong. Maaf, kami permisi dulu.”

Ufuk barat langit melembayung sebagaimana biasanya. Aku tidak tahu, sudah sepantasnyakah sikapku padanya. Malah, mengapa tawaran mengundangnya ke rumah pun tak terucap. Wahai… di manakah adatku.

Sesaat kucuri pandang ke arahnya. Dan rupanya kami melakukan hal yang sama. Antara jarak kami mengembang sebuah senyum masing-masing. Sementara itu Fatimah terus berjalan dengan langkahnya yang pendek-pendek, seperti terburu-buru.

“Bang!” cetusnya, tanpa melihatku menjelang pintu pagar halaman rumah, “Bu Bides itu pacar Abang, ya?”

Tanpa dinyana, sebongkah batu tersepak. Tusukan nyeri bagai menguliti sekujur tubuh.

“Cantik, ya!” tambah Fatimah seolah ia ingin menimbunku dengan rasa sakit yang menyerangku. Aku tidak menjawab. Aku sedang sibuk mengaduh-aduh. Ia tidak melihat bahwa di sela kuku kakiku telah meluber cairan merah.

“Jadi Abang masih terkenang pada Bides baru itu makanya anak kita Abang beri nama Meli Akhvina Mayahaziyani!” Terdengar ia memberondongku dengan kata-kata seperti keluar dari senapan mesin buatan Amerika.

Lamdingin, 28 Mei 2007

NB. Dimuat di Tabloid DETaK Unsyiah pada Edisi 23 Tahun 2007

Tidak ada komentar: