Gadis Idaman

GADIS IDAMAN

Edi Miswar Mustafa

Gadis pujaannya adalah adik kelas kami. Ia kirimi padanya surat-surat cinta tanpa ia tuliskan nama pengirimnya (karena saya tidak setuju). Mengirimkannnya puisi-puisi pilihan yang kami ambil di pustaka sekolah dari majalah sastra. Lalu, apabila jam ìstirahat tiba, gadis Itu dicarinya di antara kerumunan seragam abu-abu (saya tak pernah mengawaninya karena suatu peristiwa yang saya yakini, walaupun mungkin tidak ia katakan terus-terang tetapi saya mengerti bahwa ia ingin diam-diam mencuri pandang padanya).

Waktu itu saya hanya menikmati tubuhnya yang ranum. Pada teman saya tentu tidak pernah saya bicarakan. Keranuman tubuh itulah yang selalu bersiul dalam kesendirian saya jika malam diserbu pasukan Nabi Sulaiman dari batalyon nyamuk. Kemudian...maaf, kalau saya harus mengatakan ini; masturbasi. Biasanya Iebih dulu saya deskripsikan adegan-adegan mesum dalam catatan harian. Atau percintaan romantis serupa cerita-cerita yag pernah saya baca. Ini pun tentu saya diam-diamkan sehati-hatinya supaya teman saya jangan mengetahui. Karena itulah catatan harian sangat saya rahasiakan pada siapapun. Saya mengerti benar, akan sangat berbahaya apalagi jika ía sempat membacanya.

Saya tak peduli betapa anggun sikap kebangsawanannya, yang kerap begitu mendayu teman saya kisahkan. Kelembutan sikap itu bagi saya tidak Iebih tipuan perempuan dan setan di otak laki-laki. Saya pernah rnengungkapkan perihal itu malah. Tetapi sungguh saya amat menyesal. Beruntung dia tidak punya sifat pendendam hingga tidak berapa Iama kemudian hubungan kami kembali dekat seperti semula. Dan seterusnya saya, jadi pendengarnya yang setia sekaligus penasehatnya yang baik; saya setuju saja bagaimana ía bercerita mengenai gemulaí ayu gadis pujaannya hari ini. Bagaimana kira-kira sambutan hati gadis itu di saat membaca surat yang kami kirimkan. Kalau teman saya meminta ide-ide lain, biasanya baru saya rnengeluarkan pendapat.

Suatu hari, teman saya memutuskan mengirimkan seminggu sekali, kemudian sebulan sekali. Soalnya, dalam pantauan kami yang tak pernah lepas padanya, ia bagaikan burung yang bebas terbang melayang ke mana saja semakin hari. Laki-laki silih berganti dan tak kunjung mereda dari dekatnya. Dan wajah cantik itu bertambah mahal untuk tersenyum. Saya terkadang benci, dan saya terpikir akan surat dan puisi yang kami kirimkan. Gadis yang terlalu diawang-awangkan oleb risau laki-laki memang seperti itu. Seolah-olah menjadi merpati yang jinak tapi tak pernah hendak tertangkap. Mengibas-ngibaskan setiap inci bulunya yang indah untuk dipuja.

Pada akhirnya banyak juga saya menyumbang puisi-puisi saya. Karena puisi-puisi di pustaka telah nihil setelah kami mengambilnya dan memberikan puisi-puisi itu padanya. Kalaupun ada yang tersisa tetapi temanya jauh dari kondisional cinta teman saya itu. Dan mungkin saya harus rnengakui bahwa sebenarnya inilah tonggak dasar ketika saya rajin menulis puisi. Ratusan tak saya sangka-sangka telah menuliskannya dengan pola ucap remaja yang eksplisit.

Sekarang semua itu masih saya simpan di lemari ruang pustaka rumah saya. Acapkali di kala hujan ataupun saat merindukan teman-teman yang entah pada ke mana. Saya membaca kembali, terkadang seraya ditemani istri saya seperti sekarang ini. SambiI sekali-kali melepas pandang ke arah hujan yang seumpama temali dari langit. Ada keindahan yang tak terungkapkan ketika kenangan itu membuka tirai masa lalu. Ketika melihat kembali dunia itu. Kejadian-kejadian dan perasaan-perasaan saat saya menuliskannya.

O iya, lalu bagaimana dengan pembelajaran kami. Nilai kami semua turun. Padahal dulu semasa di SMP kami bisa dibilang termasuk jago kelas.

Bagaimana tidak hal terjadi. Tidur di rumah neneknya yang ia tinggali berdua saja dengan neneknya itu - ia tidak tidur di rumah orang tuanya - pembicaraan kami hanya gadis itu seorang. Kalau ada yang lain paling beberapa bagian kecil saja dibandingkan tentang gadis pujaannya.

Bayangkan ketika sekolah jelang usai, macam mana harapan kami memiliki nilai bagus. Gara-gara semalam bergadang rasanya mata ini telah merah menyengat seperti orang penyakitan. Ya, kami baru terlelap ketika malam telah larut, ketika neneknya tak terhitung menyuruh kami untuk diam dan tak mengobrol lagi.

“Ini kopinya, bang”, kata istri saya. Ah, rupanya selesai juga kopi diseduhnya. bersama sepiring tango* ia letakkan di atas meja. Ia kembali membuka lembar demi lembar catatan harian saya. Kami berdua sedang membaca tulisan-tulisan saya dulu. Ini karena BRR akan menerbitkan catatan harian saya itu dalam bentuk buku. Tapi karena sesuatu hal yang mungkin tak etis diketahui khalayak maka lebih dulu saya minta istri saya menyeleksinya. Bagian mana saja yang harus saya hilangkan.

Hujan masih terdengar seperti lebah berdengung. namun tak ada halilintar. Kuintip sebentar ia yang sedang asyik dengan bacaannya. Memang, dibandingkan catatan harian Soe Hok Gie atau catatan harian Wahid Hasyim tentunya catatan harian saya tidak berarti apa-apa karena tidak berisikan pemikiran yang perlu diumumkan sebenarnya. Tapi mumpung BRR sedang bertumpuk duit, begitu kata rekan saya, apa salahnya menerbitkan buku-buku saya. Jangankan punya saya, sebagai staf BRR, punya orang lain saja yang karyanya hanya copy paste itu sudi pula diterbitkan; apatah lagi punya saya. He he he proyek. Siapa yang tidak mau ‘ngurus. Kemarin istri saya pura-pura mencibir ketika saya bilang padanya bahwa gini-gini saya pernah pernah aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Unsyiah (tiba-tiba saya menjadi gemas dan mengajaknya masuk kamar).

Saya membaca kembali penggalan yang terputus tadi. Sebuah surat yang saya tulis untuk gadis pujaan teman saya itu. Yang telah saya bukukan mirip modul kuliah. Di pojok kanan nampak angka halaman seratus lima puluh sembilan. Surat ke enam puluh dua. Di sana saya tuliskan begini;

Tak selembar daun menjadi sepertiku. Aku berserakan disapu orang-orong untuk kemudian dibakar, karena aku adalah sampah. Sampah yang tak tahu diri menulis sekian puisi-puisi untukmu, Samirka”.

Saya tersenyum karena metafora selembar daun itu. Padahal di situ jelas tak selembar daun saya tulis. Tapi saya ulang lagi daun. Jadinya, saya bengkok sendiri oleh pemelintiran kata. Tapi biarlah, biarlah karena itu bagian dari kenangan. Saya dari pertama membukukan semua memang tidak ingin mengubah.

“Bang. Ini bagus kali puisinya. Yang Abang maksudkan seseorang itu Mirka, ya, tiba-tiba istri saya bicara tentang bacaannya. Saya jenguk ke pangkuannya ke buku lapuk itu yang sedang dipegangnya. “Ya”, jawabku berbohong. Seingat saya puisi itu saya ambil dari buku empat kumpulan sajak W.S. Rendra yang saya curi dari pustaka.

Surat kepada Bunda tentang Calon Menantunya;

mamma yang tercinta

akhirnya kutemukan juga jodohku

seseorang yang bagaikan kau;

sederhana dalam tingkah dan bicara

serta sangat menyayangiku

ibuku,

janganlah kau cemburu

hendaknya hatimu yang baik itu mengerti

pada waktunya aku mesti kau lepaskan pergi

begitu kata alam. begitu kau mengerti

bagai dulu bundamu melepaskan kau

kawin dengan ayahku. dan bagai

bunda ayahku melepaskannya

untuk mengawinimu

tentu sangatlah berat

tetapi itu harus mamma

dan akhirnya tak akan begitu berat

apabila telah dimengerti

apabila telah disadari

Banyak kumpulan tulisan lain yang saya dokumentasikan. Deskripsi adegan-adegan cabul yang mnceritakan tentang persenggamaan - Waktu itu saya membaca salah satu risalah Motinggo Busye dan saya sempat pernah membaca proses kreatifnya menjadi seorang sastrawan besar karena suka mengkhayal tentang hal-hal yang cabul.

Saya terbayang lagi bagaimana surat bertanggal lima belas yang saya karang. Saat itu malam amat gelap karena tidak ada sinar bulan atau pun bintang. Setelah beli kopi sekantong plastik, rokok lima batang. Sesampai di rumah nenek teman saya, saya menulis. Merangkai kata seraya ditemani denting gitar lagu-lagu jiran. Saya terangkan pada gadis pujaannya itu ketidaksenangan teman saya mengenai kedekatannya dengan aparat di depan telkom dekat lapangan bola Kecamatan.

“Mirka, Aku mengagumimu. Memenuhi perasaan sayangku untukmu semata. Dengar suara iba ini. Dengarlah, Mirka. Karena aku nggak ingin orang-orang melihatmu dengan pandangan yang hina. Bagi laki-laki, setiap gadis yang dekat dengan aparat, mereka akan melihat perempuan itu sebagai perempuan murahan. Seolah-olah ia menjajakan diri. Apakah hanya karena bisa masuk gratis waktu konser Rhoma Irama* kemarin malam dirimu rela menjadi pacar Anto Jawa makan tempe itu, hah”.

Pada akhir isi surat saya tuliskan jawaban dan keluhan gadis itu yang ia tempel di mading sekolah; menjawab surat misterius dan puisi misterius kami.

Bahwa, bukanlah teman saya tak ingin bertemu Mirka. Tetapi karena teman saya merasa tidak pantas untuk gadis itu ketahui siapa dirinya yang sebenarnya. Lagipula teman saya selalu marasa hanyalah pungguk yang merindukan rembulan.

Saya ingat betul Ketika menulis surat ini dan dua puisi. Saya bujuk dia untuk berterus terang saja. Untuk menemuinya di pojokan sekolah dekat Jambo Mie Caluek[i] Wak Ramlah pada jam istirahat kedua yang sepi. Tapi dia, teman saya itu tidak berani. Terus saya rnembujuknya hingga larut malam. Karena dari adik sepupu saya yang berteman dengan gadis pujaannya saya tahu bahwa Gadis itu sangat ingin tahu siapa orang yang selama ini telah mengiriminya ratusan puisi dan surat cinta. Tapi meski pun perihal itu sudah saya ungkapkan, malah dengan bersumpah demi Allah kalau adik sepupu saya sendiri yang bilang pada saya, dia tetap bertahan karena katanya; bahwa cinta sejati, cinta yang murni, tidak mesti harus saling memiliki. Cinta yang mesti harus saling memiliki bukanlah cinta yang sesungguhnya bagi laki-laki. Heran, entah darimana ia dengar itu. Saya benar-benar jengkel dengan pendapatnya. Saya katakan padanya bahwa pendapat ini sangat tidak masuk akal. Gara-gara dia baca cerita-cerita konsumsi orang tua. Gara-gara Ia suka sekali rnengulangi kembali membaca Siti Nurbaya, tenggelamnya kapal Van ber Wijk.

“Biar Wan. Biar pendapat aku bodoh. Gak masuk akal. Buatku ia hanya akan kupinta sama Allah kalau kita di surga kelak.” Itu jawabnya.

Bego. Dan saya tak tahan untuk tidak menyodori catatan harian saya. Agar dia baca bahwa bagi saya cinta itu ék asèe[ii].

Juga tentang bagaimana saya melucuti pakaian gadis pujaannya itu. Mencium bibirnya.

Kontan tinjunya melayang ke muka. Saya membalas serangannya. Kami saling baku hantam. Bergumul di serambi rumah. Meski jam menunjukkan angka dini hari. Sampai nenek menjerit-jerit. Sampai tetangga datang melerai.

Kami sama-sama terdiam. Hanya pandangan kesumat. Saya pulang ke rumah (padahal jika pada situasi biasa saya takut pulang ke rumah karena harus melewati kuburan). Dan untuk selanjutnnya saya tak pernah lagi bicara dengannya. Di sekolah, di kampung. Konon pernah pula ia mengancam. Jika saya membocorkan surat dan puisi-puisi itu pada gadis itu, saya akan dibacoknya.

Sial benar. Benar tak tahu di mana lagi muka ini saya taruh. Dia kira saya orang seperti itu. Saya takkan membongkar rahasia orang, apalagi saya juga andil.

Dan akhirnya sekolah menengah umum saya selesai di kecamatan yang tak lagi tenteram itu. Saya berangkat ke Banda Aceh ikut mengambil kuliah di Jurusan Manajemen Akuntansi Fakultas Ekonomi. Setelah tsunami, kebetulan Oom saya, Mas Broto, suami tante yang tinggal di Jakarta, bekerja pada BRR. Saya direkomendasikan beliau.

Buk! Saya kaget oleh desis modul yang dijatuhkan di atas meja. Spontan saya berpaling ke arah istri saya. Dia tersenyum tapi senyumnya seperti orang mengejek.

“Saya nggak ‘nyangka Abang sejahat ini. Rupanya kepala Abang yang cepat botak itu karena sering ‘ngeres, ya,” kata istri saya, terus berbalik dan berjalan menuju dapur. Perutnya telah membukit tua. Segera saja saya mematut mata saya pada modul yang ia baca tadi. Hm, kumpulan catatan harian. Demikian tertulis di lapik[iii]nya.

Di luar hujan belum juga reda. Langit bersemburat perak.

Pembaca, teman saya itu kini telah tiada. Dari koran saya tahu, ketika tubuhnya dievakuasi warga dari kuala, di antara gurumbul pokok pandan laut sore itu. Dia dianggap telah berkomplot merongrong negara. Tapi dari teman-teman yang lain, karena saya jarang pulang kampung, mereka tahu pasti bahwa dia bukan pengkhianat bangsa besar ini. Dia hanya seorang nelayan biasa. Nelayan paria.

Saya beringsut bangun dan bergerak menuju dapur. Di dapur saya peluk istri saya dari arah belakang yang sedang menggoreng telur mata sapi untuk lauk malam nanti. Saya cium pipinya sebelah kanan, Wangi parfum yang sangat kukenal menerobos masuk hidung. Sejenak tangan saya mengelus perutnya.

“Mirka, kita sepakat kan kalau ada yang bisa kita ilangin, ya, kita ilangin”.

“Mirka, kalau anak kita nanti laki-laki. Bagaimana kalau kita beri nama Idrus.” Istri saya tersenyum. Beberapa detik kemudian di antara ciuman saya pada lehernya yang jenjang, Ia berkata lirih, ” Idrus Herman”.

Saya makin erat memeluknya. Seraya memandang lelehan air hujan di kaca jendela. Kucium bibirnya. Dan saya pikir betapa bagus nama itu. Gabungan nama teman saya dan nama saya.

Banda Aceh, 25 september 2007

Penulis _ Alumnus Sekolah Menulis Dôkarim dan Mahasiswa FKIP Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah.



[i]Mie Caluek, artinya mie yang dimakan menggunakan tangan bukan dengan garpu.

[ii]Ek asee, tahi anjing.

[iii]Lapik, kover.